ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Bioskop Pertama Di Jakarta.

Bioskop pertama di Batavia diusahakanoleh seorang Belanda bernama Talbot “Gedung”nya sebuah bangsal berdinding gedek dan beratap kaleng di Lapangan Gambir. Setelah pertunjukan di Lapangan Gambir selesai, bioskop itu pun lalu dibawa keliling ke kota-kota lain.

Kemudian seorang Belanda yang lain bernama Schwarz mengikutinya. Mula-mula bioskop yang diusahakannya itu main di tempat orang belajar menunggang kuda, lalu di Kebon Jahe, dekat Tanah Abang. Terakhir bioskop Schwarz ini menempati gedung di Pasar Baru. Sayang tak lama kemudian gedung permanen itu habis terbakar.
Seorang Belanda lagi bernama de Callone mengusahakan bioskop Deca Park. Mula-mula berupa bioskop terbuka di lapangan yang di jaman sekarang disebut “misbar”, gerimis bubar. Tetapi kemudian de Callone menggunakan sebuah gedung yang dimamakannya “Capitol” di Pintu Air.
Baca lebih lanjut
Iklan

28 Juni 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | Tinggalkan komentar

Verjaardag Ratu di Pasar Gambir

Salah satu stand di Pasar Gambir (kini Monas) pada tahun 1930-an. Tampak sejumlah meneer dan noni Belanda tengah menikmati acara santai sambil minum kopi atau teh di stand tersebut. Mereka menggunakan baju dan celana putih serta prianya menggunakan topi. Pasar Gambir yang terbuka untuk minum baik siang maupun malam digemari oleh warga Belanda di Batavia. Pasar Gambir diadakan tiap bulan Agustus untuk memperingati Verjaardag (hari ulang tahun) Ratu Wilhelmina yang dilahirkan 31 Agustus 1889. Di samping Pasar Gambir pada 31 Agustus selalu diadakan pesta meriah bukan hanya di Batavia, tapi juga di berbagai kota dan tempat.

Belanda memang selalu memberikan penghargaan tinggi terhadapat raja atau ratunya. Di Indonesia yang menjadi negeri jajahannya, banyak nama jalan, lapangan dan tempat rekreasi dengan nama demikian. Seperti Wilhelmina Park yang kini menjadi Masjid Istiqlal merupakan taman dan tempat rekreasi yang banyak didatangi warga Jakarta hingga 1950-an. Ketika Juliana, puteri Wilhelmina, kawin dengan Pangeran Bernard maka jembatan Kota Intan dinamakan jembatan Juliana-Bernard.
Baca lebih lanjut

21 Juni 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | 1 Komentar

Kebon Sirih dan Pertahanan Van den Bosch

Kampung Kebon Sirih, Jakarta Pusat, diabadikan akhir abad ke-19 atau lebih dari 100 tahun lalu. Tampak sebuah delman dengan santai tengah melintas di jalan sunyi dan lengang. Tentu saja kita tidak akan mendapati lagi kawasan semacam ini di Jakarta. Jalan Kebon Sirih sendiri di hampir semua jurusannya-seperti juga ditempat lain di Ibu Kota–tiap hari tidak luput dari kemacetan.

Kebon Sirih merupakan pemekaran Kota Batavia ke arah selatan. Pada 1890 Gubernur Jenderal Van den Bosch membuat garis pertahanan yang disebut Defensielijn Van den Bosch di sekitar wilayah Gambir (Koningsplein) atau Monas. Untuk itu, dia membangun benteng yang dipusatkan di Prince Frederick Citadel yang kini menjadi Masjid Istiqlal. Sebelumnya benteng itu merupakan bagian dari Wilhelmina Park (Taman Wilhelmina), mengabadikan nama nenek dari Ratu Belanda sekarang ini. Garis Pertahanan Van den Bosch yang disebut Weltevreden (daerah yang lebih nyaman) dibandingkan kawasan ‘kota tua’. Van den Bosch terkenal dengan politik tanam paksa.
Baca lebih lanjut

12 Juni 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | Tinggalkan komentar

Batavia dan Kegagalan Sistem Kanal

Warga Jakarta memperingati ulang tahun kotanya tiap tanggal 22 Juni ketika Jayakarta berhasil mengusir Portugis tahun 1527. Belanda justru memperingatinya tiap 29 Mei ketika pada 1619 mereka menghancurkan pemukiman kaum pribumi dan menjadikan Batavia sebagai jiplakan kampung halamannya di Belanda. Lengkap dengan kanal, jembatan tarik, kanopi susun, sebuah gereja dan perlengkapan kota lainnya. Batavia berasal dari nama Batavier, sebuah kawasan di Betuwe, provinsi Gerderland, daerah pertanian di Belanda.

Pada tahap awal, Batavia dengan keindahan kota yang dihiasi oleh pohon-pohon yang rindang, bangunan cukup bagus di kanan kiri jalan dan kanal-kanal, menjadikannya sebagai kota impian.

Sampai awal abad ke-18 Batavia bagaikan ‘Ratu dari Timur’, ungkapan untuk kota yang indah. Bahkan, pada masa itu muncul beberapa istilah untuk menyebut keindahan kota, di antaranya ‘Venesia dari Timur’. Masa jaya mengalami kemunduran ketika Batavia terkena wabah penyakit akibat kota yang kumuh.
Baca lebih lanjut

3 Juni 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | Tinggalkan komentar

Indo Belanda di Batavia.

Kehidupan Indo Belanda di Batavia

Istilah Belanda Indo kini jarang terdengar lagi. Keturunan campuran ibu Indonesia dan ayah Belanda dulu banyak terdapat di Indonesia, khususnya Jakarta. Mereka kembali ke Belanda setelah pada tahun 1957 hubungan diplomatik kedua negara putus akibat sengketa Irian Barat (kini Papua).
Yang terkenal adalah Indo-Kemayoran. Di tempat ini mereka memiliki perkumpulan keroncong hingga dikenal nama Keroncong Kemayoran. Di kawasan Menteng meski sampai tahun 1950-an kebanyakan penduduknya para bule (Belanda totok), terdapat juga para Indo. Berhadapan dengan Kwitang, Jakarta Pusat, terdapat Jalan Kwini. Kampung yang diapit dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat dan Batalion X banyak tinggal Indo Belanda. Gadis Indo cantik-cantik lebih cantik dari gadis Belanda totok. Kalau sore hari mereka bermain voli di lapangan depan Gunung Agung. 
Sedang pemudanya bermain sepak bola. Orang Belanda dan Indo mempunyai perkumpulan sepakbola: VIOS, Hercules, dan BVC (Bataviasche Votbaal Club. Baca lebih lanjut

18 Mei 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | Tinggalkan komentar

Makam Tokoh DI/TII..

Makam Tokoh DI/TII di Onrust

Terlihat dua ‘makam keramat’ yang dikelilingi pagar bambu dan ubin keramik di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Seperti tertera dalam tulisan, “Salah satu dari makam itu adalah tokoh DI/TII yang dihukum mati oleh pemerintah”.
Tidak dijelaskan siapa tokoh DI/TII yang pernah memberontak terhadap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan membentuk NII (Negara Islam Indonesia). Yang mana di antara dua makam itu merupakan makam tokoh DI/TII yang pada tahun 1949/1962 telah mengobarkan pemberontakan di Jawa Barat. Baca lebih lanjut

16 Mei 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | Tinggalkan komentar

Pondok Gede

PONDOK GEDE

Pada tahun 1775 seorang Belanda bernama Hooyman membangun sebuah gedung dengan selera campur aduk antar gaya Eropa dengan corak Jawa. Dituturkan oleh penulis Belanda bahwa interiornya dibuat dengan selera tinggi, kusen pintu dan jendela diberi ukiran indah serta langit-langit dan dindingnya diperelok denga pigura artifisial. Karena rumah ini besar, sekalipun pemiliknya merendah dengan menyebut Pondok, tetapi masyarakat setempat memanggil langoed tersebut sebagai Pondok Gede. Keberadaan Hooyman tidak banyak diceritakan dalam sejarah Pondok Gede. Baca lebih lanjut

16 Mei 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | Tinggalkan komentar

Jalan Budi Kemuliaan.

Gang Scott Jadi Jalan Budi Kemuliaan

Foto awal abad ke-20 atau ham pir satu abad lalu ini memperlihatkan suasana jalan raya di Gang Scott, Weltevreden. Setelah kemerdekaan, gang itu diubah namanya menjadi Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat. Mengapa Belanda memberikan nama Gang Scott? Pada masa penjajahan, pemerintah kolonial memberikan nama jalan atau tempat mengacu pada tokoh yang tinggal di jalan tersebut. Baca lebih lanjut

10 Mei 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | Tinggalkan komentar

Negri mantan Budak.

Jatuh Bangun Sekeping Negeri Mantan Budak

Maka hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chasteleyn tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja ….
Surat wasiat Cornelis Chastelein, 14 Maret 1714.
Kalimat di atas adalah cuplikan surat wasit Cornelis Chastelein, pemilik tanah partikelir Depok. Empat bulan setelah menulis surat itu, tepatnya 28 Juni 1714, Chastelain meninggal dunia. <br Baca lebih lanjut

10 Mei 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | Tinggalkan komentar

Pemberontakan Orang Cina Tahun 1740

Lama sebelum kedatangan orang Belanda ke Indonesia, orang Cina sudah banyak berada di pulau Jawa. Jan Pieterszoon Coen mengenal mereka sebagai pekerja yang rajin dan trampil. Karenanya Coen sangat menyukai mereka dan menganjurkan kedatangan mereka ke Batavia.

Orang Cina sedang Menghisap Candu

Baca lebih lanjut

7 Mei 2010 Posted by | Nostalgia Jakarta | | Tinggalkan komentar