ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Jacatraweg, daerah elite

 

Gereja Portugis di Jalan Jakarta

Gereja Portugis di Jalan Jakarta

Rumah-rumah milik orang kaya terdapat di Jacatraweg ( sekarang jalan Pangeran Jayakarta ) yang membujur dari barat laut ke tenggara. Nama Jacatraweg ini tidak di berikan berdasarkan nama kota lama, tetapi karena ada nya sebuah benteng kecil bernama Jacatra di ujung timur jalan tersebut. Letak benteng kecil itu kira kira di sekitar rumah jagal sekarang. Di dekat ujung jalan itu mengalir sungai Ciliwung. Di tepi sungai ini kemudian bermunculan rumah-rumah indah bergaya Belanda. Dibelakang rumah-rumah itu biasanya terdapat kebun-kebun indah, berbataskan sungai Ciliwung. Tempat pemandian dan pangkalan perahu kelihatan juga di tepi sungai itu. Para pemilik rumah yang bagus itu mempunyai kebiasaan saling mengunjungi dengan menggunakan perahu-perahu yang dikayuh oleh budak-budak belian. Diatas parit-parit bagiantimur didirikanlah jembatan-jembatan kayu seperti diatas Kali Besar di daerah Kota.

Tadinya tidak banyak orang Eropa yang tinggal di luar tembok. Yang bermukim disana hanyalah orang Jawa, Makasar, Bugis, Ambon, Cina dan lain-lainnya. Petani sayur, pedagang kecil dan para tukang mula-mula hanya menghuni bagian selatan tembok saja, tetapi kemudian mereka pun menyebar sampai ke Bekasi dan Tanggerang. Hal ini terjadi setelah keadaan sudah tidak aman. Di tempat-tempat ini mereka juga mengusahakan penggilingan tebu untuk gula.

Perlu juga di ketahui, bahwa disebelah timur terdapat kubu pertahanan Ancol. Dari sini orang dapat berlayar menuju Batavia. Agak kearah barat terdapat Bacherantsgracht yang airnya mengalir kea rah Angke. Di sebelah selatan terdapat keamanan “Rijswijck”, letaknya kira-kira di dekat bekas gedung Harmoni (gedung Harmoni sendiri pada waktu itu belum ada). Pos keamanan “Noorwijk” terletak di Pintu Air. Di ujung selatan terdapat kubu pertahanan Mr. Cornelis ( Jatinegara ). Di daerah ini pada waktu itu sudah ada sekolah artileri.

Jalan
 Majapahit 1875

Jalan Majapahit 1875

Udara pengap dan busuk. Keadaan kesehatan mengalami kemunduran, sehingga tidaklah mengherankan apabila penghuni kota itu kemudian berduyun-duyun keluar tembok. Mereka berpindah terutama kearah selatan, yaitu ke daerah yang segar karena penuh pepohonan dan hutan. Puncak dari kepindahan penduduk itu ialah ketika Gubernur Jendral Van Imhoff member contoh dengan mendirikan gedung “buitenzorg” di kota Bogor. Dikemudian hari gedung Buitenzorg itu oleh pemerinta diresmikan sebagai Istana Gubernur Jendral.

Jalan
 Majapahit 1927

Jalan Majapahit 1927

Kembali ke Kota, apabila orang meninggalkan daerah Asemka, ia akan tiba di Zuider Voorstad (pemukiman di luar tembok bagian selatan) yang terletak di sebelah timur dan barat raya Pintu Besar, memanjang sampai di lapangan Glodok.

meriam sijagur.com

Iklan

16 April 2010 - Posted by | Nostalgia Jakarta |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: