ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Mobil Pertama di Batavia

Pada tahun 1903, mobil pertama di batavia diturunkan dari kapal yang membawanya dari Eropa ke pelabuhan Tanjung Priok. Pada mulanya pemilik mobil di Batavia hanya beberapa orang kaya saja, namun dalam waktu singkat jumlahnya menjadi berlipat ganda. Jalan-jalan raya di Batavia berubah menjadi sangat ramai. Residen Batavia nampaknya mengkhawatirkan keadaan yang ditimbulkan oleh lalu-lalangnya mobil itu. Maka dibuatnya surat "permintaan nasehat" kepada Kotapraja tentang bagaimana sebaiknya menghadapi mobil-mobil yang makin hari makin meramaikan jalan. Sidang Dewan Kotapraja yang berlangsung pada tanggal 25 November 1905 menyatakan, bahwa Kotapraja tidak keberatan, sepanjang hal itu tidak membahayakan lalu-lintas dan tidakakan menimbulkan kerusakan pada jalan.

Lalu-lintas mbil di Pasar Pisang. Tampak buntut trem kota yang 
menuju Taman Fatahillah

Sementara itu jumlah mobil makin bertambah juga. Hingga tahun 1925 jumlahnya mencapai 5.000 mobil. Perusahaan-perusahaan yang menyewakan mobil pun menjamur. Kecuali itu baik siang maupun malam banyak taksi liar yang beroperasi tanpa izin usaha. Pada waktu itu pangkalan taksi di Batavia adalah di tempat-tempat seperti : Kota : Lapangan Stadhuis, Kalibesar Barat dan lapangan Glodog. Weltevreden : Dekat Harmoni, Pintu Air, Gedung Kesenian, pojok selatan Lapangan Banteng, Stasiun Gambir, Deca Park, pojok Menteng/Gondangdia lama. Kebon Binatang, Raden Saleh, Krekot, Pasar Baru, dan Senen.

Pangkalan taksi di Merdeka Barat

Tarif Maksimum Untuk mobil  sewaan yang dapat memuat 5 orang adalah 30 sen untuk satu kilometernya, atau 10 sen untuk tiap satu menitnya. Ini adalah "tarif siang" yang berlangsung dari pukul 06.00 sampai pukul 23.00. Pembayaran minimumnya adalah 50 sen. Untuk pemakaian di waktu malam (23.00 – 06.00) tarifnya bisa ditawar. Biasanya tarif malam lebih tinggi dari tarif siang. Pembayaran minimumnya F. 1,-.

Pangkalan taksi di Gondangdia Barat tempo doeloe

Tarif-tarif di atas dinaikkan 25% untuk perjalan dari atau ke Tanjung Priok. Selanjutnya bila harus menunggu, penumpang membayar 5 sen untuk 1 menit waktu tunggu. Khusus bagi para Supir Taksi, pihak Kotapraja membuat satu peraturan yang isinya melarang para sopir merokok pada waktu bertugas.

Pom Bensin belum perlu antri  Tapi servise mobil harus tunggu giliran

Hanya ada satu ebro dan satu mobil kelihatan di jalan Pintu Besar 
ini

Dikutip dari: meriam-sijagur.com

Iklan

20 April 2010 - Posted by | Nostalgia Jakarta |

2 Komentar »

  1. waktu pertama kali muncul mobil di Batavia , gimana dengan penyediaan BBM-nya yaak ?
    Pertamina dah ada blom yaak ?

    Komentar oleh BimaSakti85 | 20 April 2010 | Balas

    • trima kasih kunjungannya….salam…saya pernah baca dibuku sejarah…. awalnya mobil pake air..atau tenaga uap…seperti kereta api dulu..mungkin…

      Komentar oleh Abdul Rohim | 20 April 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: