ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Jejak Portugis di Kampung Tugu

KOJA – Banyaknya torehan sejarah di Kampung Tugu, Jakarta Utara membuat kawasan pemukiman ini masuk dalam jalur 12 destinasi wisata pesisir. Tempat lahirnya kesenian Keroncong Tugu itu terletak di sebelah tenggara Tanjung Priok. Kenapa disebut Kampung Tugu? kabarnya di kawasan tersebut pernah ditemukan sebuah batu berukir aksara sansekerta yang disebut prasasti tugu.


Untuk mencapai lokasi Kampung Tugu, lebih mudah. Cukup mencari Jalan Raya Tugu, disitulah letak perkampungan yang menyimpan nilai historis tinggi itu. Menurut warga sekitar, dulunya Kampung Tugu bisa ditempuh melalui jalan air menyusuri Kali Cakung.
Dulunya, orang biasa naik sampan dari Pasar Ikan lalu menyusur pantai Cilincing. Kemudian masuk ke Marunda dan belok melalui Kali Cakung hingga sampai ke Kampung Tugu. Sekarang, bingung arah rasanya jika harus melalui jalan air itu, apalagi sampan-sampan yang memasuki Kali Cakung tak berfungsi lagi sejak tahun 1942, sejak kedatangan Jepang.
Di Kampung Tugu, saat ini masih tersisa orang keturunan Portugis. Beberapa rumah bergaya Betawi dengan sentuhan Portugis masih berdiri. Termasuk rumah yang pada tahun 1661 digunakan sebagai tempat berkumpul untuk berlatih Keroncong Tugu.
Karena tempat bermukimnya warga Portugis, dulunya semua orang masih menggunakan bahasa Portugis dalam waktu cukup lama, diselingi bahasa Melayu kasar. Lalu, ada Pendeta Leideckers yang berdiam di Tugu tahun 1978. Dialah yang memperkenalkan bahasa Indonesia.
Gereja Tugu di Kampung Tugu saat ini masih berdiri tegak dengan bentuk bangunannya yang asli meski telah beberapa kali direnovasi. Sepintas, bentuk bangunannya memang sangat sederhana. Dinding gereja dicat putih, dengan jendela dan pintu berwarna coklat. Di depan gereja terdapat kuburan, konon, pendiri Gereja Tugu, Melchior Leydecker, dimakamkan di situ.
Gereja yang dibangun tahun 1678 tersebut awalnya terbuat dari kayu, namun lama kelamaan rusak dan lapuk. Tahun 1738, gereja diperbaiki dan disebut sebagai Gereja Tugu yang kedua. Lonceng yang dibangun di sisi gereja makin melengkapi penampilan gereja kedua ini.
Menurut cerita beberapa keturunan warga Tugu, pembangunan Gereja Tugu yang ketiga dimulai pada tahun 1944. Pembangunan terjadi karena pada tahun 1940 ada pemberontakan warga Cina dan gereja dirusak. Waktu itu, Tugu tidak mempunyai gereja lagi. Beruntung ada seorang Belanda bernama Yustinus Vienk yang menjadi tuan tanah di Cilincing yang membangun kembali Gereja Tugu. Gereja ketiga dibangun tidak persis di lokasi semula, namun beberapa ratus meter dari gereja yang dirusak.
Bagi penikmat wisata sejarah, Gereja Tugu masih berdiri kokoh dan setiap hari Minggu dipenuhi nyanyian dari para jemaat warga sekitar. Kampung Tugu menyimpan sejuta kenangan sejarah. Bahkan, di sana sempat dikenal juga beberapa makanan khas, seperti gado-gado tugu, dendeng tugu, dan pindang serani Tugu. Yang paling kerap dibicarakan orang mengenai Kampung tugu, barangkali, adalah Keroncong Tugu (ejaan saat awal berdiri Keroncong Toegoe). Keroncong sendiri sebenarnya adalah alat bermain musik semacam gitar berdawai.
Dalam perkenalan musik tersebut, keroncong pertama didatangkan ke Tugu yang dibuat di Portugis dengan bahan dari kayu Ahorn. Bentuknya mirip gitar, namun lebih kecil. Ada sebuah lagu sederhana yang kerap dimainkan saat terang bulan dan diberi nama Lagu-Kroncong, dalam bahasa Portugis dinamakan Moresco.
Ada lima jenis Keroncong Tugu, baik yang berdawai lima atau enam. Lambat laun, nama Keroncong Tugu dikaitkan dengan sebuah grup menyanyi. Tempat orang-orang Tugu zaman dulu bermain, kini dijadikan tempat untuk menyimpan jenis-jenis alat musik keroncong. Tempat itu ditinggali oleh seseorang yang juga masih keturunan Portugis. (Kompas)

Dikutip dari: wisatapesisir

Iklan

26 April 2010 - Posted by | Nostalgia Jakarta |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: