ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Dari Malaka Menetap di Tugu

Setelah menguasai Batavia (1619), Kompeni masih belum merasa puas sebelum menaklukkan Portugis yang menguasai jalur perdagangan penting di Selat Malaka. Maka pada 1641, satuan armada Belanda dengan kekuatan besar berhasil menaklukkan Malaka, kota dagang terpenting Portugis di pantai barat semenanjung Melayu. Banyak tawanan perang, terdiri dari orang-orang Portugis dan dari daerah yang didudukinya seperti Goa, Malabar, Coromandel (India) dijadikan sebagai tawanan perang.
Mereka kemudian diangkut ke Batavia sebagai budak belian. Bersamaan mereka juga terangkut meriam Portugis ‘si jagur’, yang pernah dikeramatkan oleh penduduk Jakarta. Kini, setelah beberapa kali berpindah tempat, meriam tersebut disimpan di Museum Sejarah DKI Jakarta, Jl Fatahillah, Jakarta Barat. Wali Kota Jakarta, Sudiro, melihat terjadi kemusrikan karena meriam dijadikan tempat minta-minta peruntungan.
Para tawanan ini kemudian dimerdekakan setelah mereka beralih agama dari Katolik ke Protestan. Mereka pun disebut ‘Mardika’ atau Mardijkers . Banyak di antara keturunan Portugis ini mengawini suku-suku yang beragama Kristen dan terbanyak orang Banda, yang ketika itu diberi tempat sendiri di Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara.
Pada 1661, gereja di Batavia dengan persetujuan VOC memindahkan sebanyak 23 keluarga (150 jiwa) dari orang ini, yang mereka beri nama  Mustizar (Mestizen) yang berarti campuran. Mereka ini kemudian diberi tempat di Kampung Tugu sekarang ini sekitar 20 km sebelah tenggara Batavia.
Sejak mereka mendiami Kampung Tugu pada 1661 disebut orang Tugu. Tapi, oleh penduduk Muslim disebut ‘orang serani (dari kata Nasrani). Orang Tugu merupakan keluarga besar karena perkawinan-perkawinan yang terjadi setelah mereka berada di tempat baru ini. Bagi yang tidak bersedia masuk agama Protestan dan bertahan dengan Katolik, ditempatkan di Nusa Tenggara Timur. Yang nyata, seperti diakui warga setempat, sampai saat ini Tugu merupakan kampung Kristen tertua di seluruh Indonesia.
Orkes keroncong
Dalam kehidupan sehari-hari di Tugu mereka bertani, berburu babi yang dibuat dendeng asin, terkenal dengan nama ‘dendeng tugu’. Di samping menangkap ikan di kali Tugu (kali Cakung) atau di laut. Sejak pendudukan Jepang (1942) senapan yang dimiliki orang Tugu dirampas. Dalam wawancara dan dilanjutkan beberapa kali datang ke Tugu, kesibukan lain tidak banyak terdapat karena karena kehidupan di Tugu untuk beberapa ratus tahun adalah  Natuurleven (kehidupan bebas alam).
Hingga tidak banyak pengaruh dari luar. Pada malam hari mereka berkumpul dengan bergantian tempat, untuk membuat keramaian sendiri, yakni seni musik keroncong atau Rabu-rabu. Keroncong dalam bahasa Tugu mereka sebut  kafrinyu . Orang-orang tua Tugu dahulu pandai mengarang lagu-lagu dan pantun (dalam bahasa Portugis Tugu), sehingga banyak sekali lagu keroncong dan Stambul berasal dari Tugu.  Dialog Portugis Tugu yang merupakan bahasa sehari-hari mereka sampai 1935 tetap mereka pertahankan. Kini, setelah orang-orang tua meninggal dialog ini terancam hilang sama sekali.
Gambaran eksisnya masyarakat Tugu, terhadap kesenian leluhurnya, menurut  Samuel Qyiko, yang ketika diwawancarai saat ia masih hidup, dibuktikan dengan adanya empat orkes keroncong di Tugu. Di samping Cafrinho Tugu, tiga orkes keroncong lainnya adalah Moirisco Tugu IV, OK Tugu, dan Tugu Ren Jaya.
Mourisko
Saat ini di Tugu setidaknya masih tinggal tujuh nama keluarga yang berasal dari keturunan Portugis. Masing-masing Quiko, Andries, Michilies, Braume, Cornelis, Abraham, dan Solomon. Sedang keluarga yang kini sudah punah adalah Parela, Marcos, Mayo, Hendriks, dan Seymons.
Nama  Mourisko yang menjadi nama orkes keroncong di Tugu, berasal dari kata  moor (Maroko) dan  isko (orkes). Menurut penduduk setempat, nama ini disebabkan karena keroncong awalnya berasal dari Maroko (Afrika Utara). Bangsa Moor (Arab) ini pernah menjajah Portugis dari abad ke-8 hingga 12 M. Dan kesenian inilah yang membekas dan kemudian dibawa ke Tugu. Sebelum Malaya (kemudian Malaysia) merdeka 1957, lagu  Terang Bulan , yang kini menjadi lagu kebangsaan Malaysia (Negaraku), merupakan lagu kegemaran rakyat Tugu yang dimainkan muda-mudi saat berpacaran di malam terang bulan.
Menurut sejarawan Jerman, Adolf Heyken, lagu keroncong  Nina Bobo yang masih banyak dinyanyikan dewasa ini merupakan bentuk ringkas dari kata Portugis  menina (gadis kecil). ‘Nina bobo’ dalam Portugis berarti ‘tidurlah gadis kecil’. Orang Tugu menyebut keroncong  macina . Yang menamakan orkes keroncong adalah masyarakat. Karena bunyinya  crong crong .
Satu lagi kebiasaan leluhur mereka yang masih dipertahankan di Tugu adalah mandi bersama. Menjelang penggantian tahun sambil bermain musik, penduduk Tugu keturunan Portugis saling berkunjung dari rumah ke rumah. Dan di setiap rumah disediakan minuman. Seperti  ngamen lah. Jika dalam satu malam seluruh rumah di sekitar Tugu tak sempat dikunjungi, akan dilanjutkan esok malamnya. Acara ditutup dengan mandi-mandi pada malam tahun baru. Dimaksudkan untuk meminta maaf terhadap segala kesalahan. Beberapa tahun lalu, ketika Samuel masih hidup dia menjelaskan, kebiasaan leluhur ini masih terus dilaksanakan.

Sumber: Alwi Shahab (Republika)

Iklan

15 Maret 2010 - Posted by | Nostalgia Jakarta |

1 Komentar »

  1. Wah
    ternyata sesama bangsa eropa juga saling memperbudak ya?

    Komentar oleh Johan | 26 April 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: