ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Nonton Gambar Idoep 1950-an

Nonton film (dahulu disebut gambar idoep), sekarang ini yang semuanya berada di mal — jauh lebih nikmat dibandingkan 1950-an. Dengan harga karcis antara Rp 25 ribu dan ada Rp 150 ribu (yang terakhir ini penonton bisa melonjor), tentu saja jauh lebih mahal dibanding 1950-an. Harga tiket setengah abad lalu rata-rata hanya seperak dan dua perak untuk bioskop kelas menengah, seringgit (dua setemgah perak) hingga lima perak untuk bioskop kelas satu. Lalu berapa harga karcis untuk bioskop ‘misbar’ (gerimis bubar) yang ketika juga cukup banyak ?? Tidak lebih dari setengah perak (50 sen).
Kalau kini nonton film sambil menikmati jalan-jalan di mal atau pasar swalayan, dahulu kita harus bersusah payah mendapatkan karcis. Apalagi kalau filmnya bagus dan ‘banyak jotosan’, seringkali lebih dari satu jam antre sebelum bioskop main. Di depan loket terdapat besi sepanjang tiga sampai lima meter hanya cukup untuk satu orang. Maklum, kalau banyak penonton, tiket dibatasi. Di bioskop-bioskop juga terdapat tukang catut. Daripada bersusah payah mandi keringat lebih baik beli karcis catutan. Rupanya, tukang catut bekerja sama dengan penjual karcis.
Film masih dibatasi semua umur, 13 tahun ke atas dan 17 tahun ke atas.
Bisa dimaklumi kalau bioskop salah satu tempat hiburan yang digemari. Televisi belum muncul dan pemilik radio terbatas jumlahnya. Band-band memang bermunculan, tapi Bung Karno tidak senang berbau kebarat-baratan. Dia juga melarang berpakaian yang dianggap seksi.
Tahun 1950-an sandiwara kurang diminati. Gedung Kesenian di Pasar Baru, Jakarta Pusat, terpaksa dijadikan bioskop bernama ‘City Theater’. Karena berdekatan dengan Pasar Baru dan Pintu Air, tempat masyarakat India, yang diputar film-film India. Di depan Gedung Kesenian terdapat bioskop ‘National’ juga memutar film-film India.
Dari Kota sampai Jatinegara
Jumlah bioskop 1950-an seabrek-abrek mulai dari Kota hingga Jatinegara. Di Glodok, terdapat dua ‘gambar idoep’, Orion dan Shanghai. Di dekatnya di ujung Jalan Hayam Wuruk (pertokoan Lindeteves), terdapat bioskop ‘Thalia’. Masuk ke Jalan Mangga Dua terdapat tempat pesiar ‘Princen Park’, tempat dansa-dansi orang berkantong tebal. Di Sawah Besar terdapat bioskop ‘Alhambra’ yang dikelola oleh S Ridho Shahab, memutar film-film Mesir seperti juga India banyak lagunya. Cinema Theater terletak di Krekot dan tidak jauh dari sini terdapat Globe Theater.
Berbelok ke arah kiri memasuki daerah pertokoan, di ujungnya terdapat bioskop Capitol yang hanya memuatar film-film Barat. Sebelum kemerdekaan, bioskop mengadakan politik rasial hanya membolehkan penonton warga Barat. Di sampingnya terdapat bioskop Astoria, kemudian setelah adanya larangan memakai nama Barat menjadi Satria. Di sini ada pertunjukan Matinee (pagi hari). Film India ‘Dil El Nadan’ pernah diputar satu bulan. Dimulailah orkes dangdut menggantikan orkes melayu, akibat merebaknya lagu India. Jalan Veteran II berseberangan dengan Masjid Istiqlal ketika itu bernama Citadelweg. Di sini terdapat klub malam ‘Black Cat’, yang buka semalam suntuk. Di jalan ini terdapat Ice Cream Ragusa yang bertahan sejak tahun 1930-an.
Di depan Departemen Dalam Negeri di Jalan Merdeka Utara, terdapat bioskop Deca Park yang memutar film-film Hollywood dengan teks bahasa Belanda. Bioskop yang digemari masyarakat Eropa ini sekarang menjadi bagian lapangan Monas.
Garden Hall
Bioskop yang bergengsi lainnya adalah Garden Hall. Sekarang merupakan bagian Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini Raya. Di dekatnya terdapat Bioskop Podium. Kedua bioskop muncul setelah kebun binatang di bekas kediaman Raden Saleh ini dipindah ke Ragunan, Jakarta Selatan, pada awal 1960-an. Masih di Cikini, depan stasiun kereta api pada 1952 dibangun bioskop ‘Metropole’. Bioskop kelas I ini hanya memutar film-film MGM (Metro Goldwyn Mayer). Tapi, berkat perjuangan Usmar Ismail, film ‘Krisis’ bertahan hampir sebulan di bioskop yang memiliki ‘loge’.
Sedikitnya lima bioskop di Senen dan Kramat. Rialto di Senen merupakan bioskop kelas bawah. Penontonnya akan berteriak-teriak bila terjadi adu jotos antara ‘jagoan’ melawan ‘bandit’. Karena bangkunya dari rotan banyak bangsat (tumbila). Juga bau pesing menyengat di bioskop yang kini menjadi kesenian ‘Wayang Orang’. Bioskop Grand (Kramat) hingga kini masih berada di segitiga Senen. Bioskop dekat proyek Senen berdekatan dengan Rex Theatre yang kini jadi pertokoan. Bioskop Rivoli di Kramat Pulo, khusus memutar film-film Malaysia dan India.
Di Matraman terdapat bioskop Central, sedangkan bioskop Nusantara yang terletak di depan terminal Jatinegara kini menjadi pertokoan. Di Bendungan Jago, Kemayoran, Jakarta Pusat, terdapat bioskop Rahayu. Disebut Bendungan Jago, karena di daerah yang berdekatan dengan Jembatan Haji Ung (nama kakek Benyamin S), tinggal seorang jago silat. Di Gunung Sahari terdapat Cathay Theatre. Bioskop yang dapat menampung 2.000-an penonton kini menjadi pertokoan Golden Truly. Masih banyak lagi bioskop tahun 1950-an, hiburan paling banyak digandrungi.
Dari uang jajan bila dikumpulkan dua tiga hari kita bisa ke bioskop. Sekaligus mentraktir pacar atau cewek yang diperoleh saat menonton. Pacaran kala itu tidak perlu uang banyak. Belum banyak restoran-restoran mewah seperti sekarang. Paling mengajak pergi naik becak untuk ‘nyate’ atau makan soto mie yang terkenal di Kebon Sirih. Bakso masih belum muncul. Banyak perkawinan dimulai dari jenjang perkenalan di bioskop.

Sumber: Tulisan Alwi Shahab

Iklan

19 April 2010 - Posted by | Nostalgia Jakarta |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: