ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Menelusuri Jejak Noni Belanda di Stasiun Tua

Tanjung Priok – Mungkin, banyak yang tidak tahu jika di dalam Stasiun Tanjung Priok terdapat ruang dansa luas. Area ini terdapat di belakang penjualan loket dan masih ada hingga kini. Warga sekitar kerap melihat penampakan noni Belanda di balik jendela besar di ruang dansa tersebut.

Untuk masuk ke area stasiun tidak sulit, petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk hanya menanyakan keperluan pengunjung. Bilang saja ingin berwisata dan melihat-lihat keindahan gedung, petugas akan mempersilahkan masuk tanpa perlu membeli tiket masuk seperti di museum lain. “Kami (pihak stasiun, red) memang belum mengenakan biaya masuk bagi pengunjung yang ingin berwisata,” tukas Isroyadi, Kepala Stasiun Tanjung Priok.
Begitu masuk, pengunjung akan disuguhi aula besar dengan eternit yang cukup tinggi. Kemegahan terlihat begitu menatap kanopi yang terbuat dari mozaik kaca. Bahkan keindahannya membuat mata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono susah berpaling saat meresmikan Stasiun Tanjung Priok beberapa waktu lalu.
Jika ingin langsung menuju ke ruang dansa jaman kolonial, kita bisa langsung ke belakang loket sisi utara. Memang terdapat pintu besar, namun tidak akan menghalangi pengunjung untuk bernostalgia sesaat karena pintu tersebut sengaja tidak dikunci. Saat masuk, terdapat meja penerima tamu yang masih asli. Meja tersebut berfungsi mencatat setiap tamu yang datang.
Di ruang dansa berukuran sekitar 15×15 meter sekarang memang tampak kosong, hanya pilar-pilarnya saja yang masih terdapat dudukan gelas. “Dulunya, ini tempat menaruh gelas ketika pengunjung yang seluruhnya orang Belanda ingin berdansa,” terang Isroyadi saat menemani wisatapesisir.com.
Puas melihat ruang dansa, wisatapesisir.com diajak kebelakang ruang dansa yang berfungsi sebagai bar. Disini terdapat rak penyimpan gelas yang masih terjaga keasliannya. Rak tua berbahan kayu jati berukuran sekitar 1,5×5 meter ini masih kokoh menempel ke dinding. Ditengahnya terdapat kolom untuk menaikkan dan menurunkan ransum. Kolom tersebut terhubung ke dalam bunker yang kini masih dalam tahap penggalian.
Dibelakang bar, terdapat pintu yang bisa membawa pengunjung ke bunker (sementara ditutup selama penggalian, red) atau toilet presiden. Kenapa dinamakan toilet presiden? “Setelah diperbaiki, toilet ini pertama kali digunakan presiden (SBY) saat peresmian yang lalu,” katanya. Didalam toilet terdapat tiga pispot besar buatan Belanda. Tidak seperti pispot masa kini, pispot tersebut berukuran 1m x 50cm. Pipa yang berfungsi mengalirkan air terbuat dari kuningan dan tampak terekspos dan berfungsi dengan baik.
Keramik yang terdapat dilantai dan dinding juga masih asli, berikut wastafelnya. Hanya kamar mandi yang berubah. “Dulunya sudah rusak parah makanya di ganti yang baru,” imbuhnya.
Selanjutnya, wisatapesisir.com diajak ke ruang penginapan. Namun disini, pengunjung harus melalui pagar yang terbuat dari besi tempa. “Pagar ini juga masih asli,” tegas Isroyadi. Dulunya pagar ini berfungsi memisahkan penumpang dengan pengantar. Jadi pengantar hanya bisa sampai lobi stasiun. Beberapa bagian stasiun yang masih dipertahankan keasliannya adalah stoppile dan tiang kabel.
Untuk menuju ruang penginapan, pengunjung harus melalui tangga yang terdapat di ruang petugas keamanan. Terdapat sepuluh kamar yang memiliki dua ukuran yaitu, 6×3 meter dan 6×6 meter. Perbedaan ruang tersebut diyakini sebagai pembeda antara orang Belanda berduit dan yang pas-pasan. “Bisa dibilang yang lebih luas ini kamar VIP,” canda Isroyadi.
Namun, sekarang kamar ini masih tampak kosong. Beberapa kamar digunakan sebagai kantor operasional stasiun dan ruang istirahat pekerja yang sedang melakukan penggalian bunker. Tidak seperti kamar hotel masa kini, seluruh kamar tidak dilengkapi kamar mandi. Kamar mandi terletak dilantai satu dan memiliki sekitar 12 kamar mandi. Karena masih dalam tahap perbaikan, kamar mandi tersebut sementara ini difungsikan sebagai gudang.
Kesan angker memang masih mewarnai gedung tua tersebut. Bahkan, beberapa warga yang melintas, kerap memergoki penampakan noni Belanda di ruang dansa. Memang kusen besar yang masih asli dan terawat kebersihannya ini seperti memberi ruang kepada warga yang melintas untuk melihat kedalam. “Ada beberapa warga yang mengaku pernah melihat penampakan noni Belanda,” katanya.
Kendati belum seluruhnya selesai diperbaki, kawasan Stasiun Tanjung Priok cukup mumpuni dijadikan kawasan wisata murah. Tidak ada tiket masuk dan aksesnya cukup mudah karena berhadapan langsung dengan Terminal Tanjung Priok. Jadi kapan mau bernostalgia dengan menyambangi gedung pertama yang menggunakan struktur beton bertulang ini?

Dikutip dari: wisatapesisir.com

Iklan

23 April 2010 - Posted by | Nostalgia Jakarta |

1 Komentar »

  1. Penampakan itu pernah saya alami sewaktu saya kecil, ketika saya sedang main dirumah teman SD saya dulu. Waktu itu Stasiun KA tg priok blom beroperasi seperti sekarang.

    Komentar oleh Ridwan Husaini | 5 Maret 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: