ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Foto Studio dan Afdruk Kilat

Foto Studio dan Afdruk Kilat

Foto menjadi sangat penting sebagai kenang-kenangan terhadap peristiwa yang kita alami. Berbagai acara seperti perkawinan, ulang tahun, piknik, dan 1001 peristiwa penting lainnya terasa kurang afdol tanpa kenang-kenangan berupa foto. Tapi, foto baru mulai dikenal di Hindia Belanda pada 1840, dua tahun setelah ditemukan Louis Danguerres dari Prancis pada Agustus 1839. Tidak heran, peristiwa-peristiwa sebelumnya tidak ada fotonya. Kita hanya dapat menikmati Batavia dan beberapa kota di Jawa pada abad ke-18 melalui lukisan. Pelukisnya, Johannes Rach (1720-1783), perwira kompeni kelahiran Kopenhagen, Denmark. Dialah yang melukis kota Batavia dan sekitarnya, Buitenzorg (Bogor), Tangerang dan  beberapa kota pelabuhan di Pulau Jawa. Dia meninggal pada 4 Agustus 1783 di kediamannya di Roa Malaka, Jakarta Barat.
Fotografer (tukang potret) pertama di Hindia Belanda adalah Jurian Munich (1817-1865) pada 1841. Dua tahun kemudian (1845), Adolf Schafea kelahiran Jerman merupakan ‘tukang potret’ pertama di Hindia dan mengoleksi 58 foto Candi Borobudur yang baru saja ditemukan Raffles saat kekuasaan Inggris di Jawa (1811-1816). Koran Belanda ‘Java Bode’ 6 dan 9 September 1854 memuat iklan foto studio Chez A. Lecoutex di Noordwijk (Jl Juanda), Jakarta Pusat.
Sejarah fotografi di Indonesia makin berkembang, ketika dua orang  mad kodak Walter Bentley Woodbury dan James Page, Mei 1857 tiba di Batavia dari Melbourne, Australia. Boleh dibilang keduanyalah pelopor fotografi dengan membuka studio pada 1857. Studionya terletak di Rijswijk Straat (Jl Majapahit depan gedung Harmoni). Mereka juga membuka cabang di Glodok. Di studio filmnya terdapat tiga buah kamera yang ditutupi kain hitam saat membidik. Sedangkan lampunya sebagai pengganti lampu kilat ‘meledak’ saat film diambil.
Sejak adanya studio foto di Batavia, banyak tukang foto baik yang profesional maupun amatiran membuat gambar hiruk pikuk kota dengan keanekaragaman etnisnya. Tentunya dengan teknologi yang masih sangat sederhana, berupa kamera yang sangat berat, lensa yang mudah pecah, dan proses pembuatan gambar yang memerlukan waktu lama.
Saat itu hanya dapat dibuat gambar dari objek dengan posisi statis dan belum memungkinkan membuat gambar dengan objek bergerak.  Sebagian besar foto dibuat dalam studio. Karenanya terdapat gambar pedagang makanan dengan pembelinya membelakangi sebuah layar. Tampaknya untuk membuat foto ini, pedagang dan pembelinya harus digiring masuk studio foto.
Kamera makin ringan
Pada awal abad ke-20 terjadi kemajuan teknologi kamera yang dibuat lebih ringan dan tidak perlu diangkut-angkut lagi saat foto di luar studio. Kalau pada awalnya hanya warga Belanda yang memiliki studio-studio film, kemudian warga Cina ikut  nimbrung . Lebih-lebih setelah tahun 1920-an, kamera makin ringan dan harganya makin murah. Minat berfoto masyarakat makin meningkat. Hampir tiap kegiatan penting dan yang pasti saat perkawinan diabadikan dalam foto. Termasuk di kampung-kampung sebagai kenangan berharga bagi anak cucu.
Begitu maraknya studio film menjelang Perang Dunia II, hingga studio ini terdapat hampir di seluruh penjuru kota Jakarta. Apalagi setelah kemerdekaan, banyak pribumi yang berkecimpung meski masih didominasi keturunan Cina. Studio terkenal adalah Centia Foto Studio di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat dan Tan’s Studio di Pasar Baru. Masing-masing milik Belanda dan Cina. Di Jalan Kramat Raya saja ketika itu terdapat lima studio film, belum lagi di Senen yang letaknya bersebelahan. Yang terkenal King dan Futura. Untuk berfoto di studio harganya tidak mahal. Ketika pelajar, saya dapat berfoto dari hasil uang jajan sekolah.
Diberi warna
Sampai tahun 1960-an, studio film belum memproduksi film berwarna. Salah seorang keluarga saya yang menikah tahun 1968 filmnya masih hitam putih.
Entah bagaimana ketika itu ditemukan cairan untuk mewarnai foto. Cairan  dalam botol kecil dan tiap botol bewarna merah, hijau, biru, cokelat, dan warna lainnya, bukannya dijual di toko-toko tapi di kaki lima. Di kaki lima Kramat dan Senen dapat kita jumpai pedagang ini sambil mempraktikkan kemahirannya dalam mewarnai foto-foto sesuai selera pemesan. Meskipun tidak sebagus film berwarna saat ini, hasilnya ternyata cukup lumayan. Padahal ketika itu, foto-foto bintang Hollywood seperti Elizabeth Taylor, Marilyn Monroe, Rock Hudson, dan Tony Curtis dijual oleh para pedagang kaki lima sudah berwarna.
Sedangkan bioskop-bioskop sudah lebih dulu menyajikan film berwarna. Film Indonesia pertama berwarna ‘Rodrigo de Vila’, produksi Persari yang dibuat di Manila pada 1952. Film ini dibintangi Rd Muchtar dan Netty Herawati. Kecuali film-film Hollywood, film India dan Malaysia umumnya masih hitam putih.
Kembali ke studio film, karena memerlukan waktu tiga hari baru foto selesai maka sekitar 1960-an afdruk kilat menjamur juga di kaki-kaki lima. Di kaki-kaki lima dengan menggunakan lampu petromak yang dimasukkan dalam sebuah lubang dan diberi tirai dari kain, foto dicetak. Selesai dalam sepuluh menit. Untuk membuat KTP dan paspor kita tinggal memberikan klise pada pada mereka untuk afdruk kilat. Di masa foto digital sekarang sudah sulit ditemui mereka yang membuka afdruk kilat yang sudah merebak di mana-mana.

Sumber: Alwi Shahab (Republika)

Iklan

28 Maret 2010 - Posted by | Nostalgia Jakarta |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: