ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

91 Jenis Burung Hidup di Muara Angke

PENJARINGAN – Rimbunnya hutan bakau yang teduh teryata membuat Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) menjadi habitat sejumlah burung dan satwa lainnya. Setidaknya tak kurang dari 91 spisies burung, yakni 28 spisies burung air dan 63 spisies burung hutan, menguhuni kawasan SMMA. Sebagian besar merupakan burung dilindungi, seperti Burung Sikatan Bakau (Cyornis rufigastra), Prenjak Jawa (Prinia familiaris), Cerek Jawa (Charadrius javanicus). Bahkan, SMMA menjadi habitat terakhir Bubut Jawa (Centropus nigrorufous), salah satu spesies terancam punah di dunia.

Burung terancam punah lainnya yang menghuni kawasan ini yaitu Bangau Bluwok (Mycteria cinerea). Di Pulau Jawa, bangau jenis ini diketahui hanya berkembangbiak di Pulau Rambut yang terletak tidak jauh dari Muara Angke.
Selain jenis burung, di SMMA juga masih dijumpai satwa lain. Misalnya, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Mereka hidup berkelompok. Makanan utamanya daun-daun muda dan buah-buahan bakau seperti Pidada (Sonneratia caseolaris).
Hewan herbivora ini memiliki peran penting di SMMA. Karena kera ekor panjang dapat membantu penyebaran biji-bijian tumbuhan hutan. Dimana saat mereka mengkonsumsi buah-buahan hutan, biji buah yang tak dapat dicerna akan dikeluarkan kembali bersama feses dan akhirnya akan menjadi benih tanaman yang baru.
SMMA juga menjadi lokasi pengungsian bagi spesies reptilia. Seperti ular Sanca (Phyton reticulatus), Biawak (Varanus salvator), ular Kobra (Naja sputatrix), ular Welang (Bungarus fasciatus), ular Kadut (Homalopsis buccata), ular Cincin Mas (Boiga dendrophylla), ular Daun (Ahaetula prassina) dan ular Air (Cerberus rhynchops).
Sementara vegetasi yang tumbuh di SMMA didominasi tumbuhan air payau, seperti Bakau (Rhizophora mucronata), Api-api (Avicennia alba), Pidada (Sonneratia caseolaris), dan Buta-buta (Excoecaria agallocha). Beberapa jenis tumbuhan asosiasi bakau juga dapat ditemukan di kawasan ini seperti Ketapang (Terminalia catapa) dan Nipah (Nypa fructicans).
Selain jenis bakau tersebut, banyak pula jenis bakau dan non bakau introduksi (hasil kegiatan reboisasi). Seperti Waru laut (Hibiscus tilliaceus), Tanjang (Bruguiera gymnorrhiza), Nyamplung (Callophylum inophyllum), Bintaro (Cerbera manghas), Akasia (Acacia auriculiformis), Asem (Tamarindus indica), dan Lamtoro (Paraseriantes falcataria).
Di beberapa bagian, terutama bagian utara dan selatan SMMA banyak ditumbuhi semak-semak terutama Gelagah (Saccharum spontaneum). Semak-semak ini memiliki nilai penting terutama sekali bagi burung yang hidup di semak seperti Bubut Jawa. Selain itu, bakau juga merupakan habitat beraneka ragam jenis ikan.
Selain memiliki peran penting sebagai kawasan konservasi burung dan habitat ikan, SMMA juga memiliki peran penting dalam upaya pengendalian banjir. Sebab, lokasi SMMA terletak di muara banjir kanal barat (BKB). Seperti diketahui BKB dibangun tahun 1922 untuk mengendalikan banjir di kota Jakarta. Di samping itu, SMMA juga sangat berperan penting dalam upaya penanggulangan abrasi pantai dan ketersediaan ruang terbuka hijau di DKI Jakarta.

Written by agus

Sumber: wisatapesisir.com

2 Mei 2010 - Posted by | Wisata

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: