ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Senjang Nasib

Senjang Nasib, Senjang Prioritas

Hanya pemerintah yang bisa mengatasi senjang nasib anak-anak masa depan.
Udara panas bercampur debu menjadi hawa sehari-hari. Asap pekat kendaraan datang menghiasi. Beberapa pengendara roda dua dengan sigap membentangkan tangan guna menutupi wajah dari hawa ‘kejam’ bus kota. Syahdunya senja kala itu, seketika tertutup oleh pekatnya asap hitam.
Di lain pihak, seorang pria tampak tenang dalam antrean panjang kendaraan. Mengendarai mobil terbaru memberinya jaminan kenyamanan di tengah sore Jakarta yang padat.
Dengan gagahnya, ia memperhatikan sekeliling jalan, mencari celah di antara antrean. Kendaraan yang ditumpangi masih terlihat ‘gress’ dalam balutan cat yang mengkilap.
Asap yang menyerbu hanya pemandangan baginya. Aroma harum semerbak pewangi kendaraan mampu menjadi penawar.
Dalam jarak yang cukup dekat, anak-anak kecil riang bermain di trotoar jalan. Saat lampu berganti merah, mereka pun menyerbu kaca-kaca pengemudi, berharap akan ada yang mau memberi. Tak peduli hari beranjak malam, mereka bertahan dalam kondisi yang memprihatinkan.
Seketika, rintik turun membahasi langit Jakarta. Hujan yang datang disambut tawa sang bocah. Mereka dengan riang bertahan di pinggir jalan. Sebaliknya, hujan justru menjadi petaka bagi pengendara. Klakson-klakson makin nyaring berbunyi untuk memperingatkan kendaraan yang berteduh di sisi. Kebisingan seketika terjadi di tengah gemercik hujan dan tawa anak jalanan.
Tawa sang anak menjadi bukti adanya keceriaan di tengah derita hidup. Seakan tidak peduli, mereka terus berlari, walaupun perut belum terisi.
Tidak ada tatapan wajah iri saat mereka mendapati seorang anak tengah duduk nyaman di jok mobil. Saat itu, jarak mereka cukup dekat, hanya berbatas selapis kaca. Namun, jarak nasib sebaliknya, sangat jauh.
Senjang, mungkin merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan semua itu. Jangankan memiliki keinginan duduk di jok empuk mobil, membayangkan saja mungkin tidak terlintas di benak mereka.
Harapan yang ada hanya sesuap nasi untuk dikonsumsi sehari-hari. Berbeda dengan anak di dalam mobil, yang mungkin masih memiliki jutaan harapan dan cita-cita. ”Saya sudah gak sekolah. Di jalan saya ngamen buat bantu orang tua, buat hidup,” ujar Muktar, salah satu anak jalanan.
Bagi anak seusianya, harapan merupakan seseuatu yang selalu dipikirkan dan dicari. Namun, tak begitu dengan Muktar. Ia hanya memiliki secarik cita-cita dan harapan.”Cita-cita saya mau sekolah, biar pintar,” ujarnya singkat .
Lain lagi dengan Ani (11 tahun). Bocah yang sehari-hari mengamen di perempatan Mampang ini, memiliki harapan untuk hidup di tempat yang layak. Selama ini, ia tinggal di sebuah bedeng di daerah kumuh Tegal Parang, Jakarta Selatan.
Ia tidak mengharapkan rumah yang memiliki pendingin udara dan mewah dengan pagar menjulang. Yang ia damba hanyalah tempat berlindung dari sengatan mentari dan guyuran hujan. ”Pokoknya yang penting aman dari banjir, gak digusur, sama gak dikejar-kejar trantib” tutur Ani dengan ekspresi muka ceria.
Ani merasa fasilitas perlindungan baginya dan anak jalanan lain masih sangat minim ”Kalau tinggal di panti, kayak disiksa, gak enak.” keluhnya.
Keluhan Ani memang berdasar. Di kota besar seperti Jakarta, fasilitas perlindungan anak masih belum memadai. Bayangkan, ibu kota negara hanya memiliki satu tempat perlindungan anak jalanan, yakni di Bambu Apus, Jakarta Timur.
Seto Mulyadi, ketua Komnas Perlindungan Anak, mengutarakan keprihatinannya terhadap minimnya fasilitas perlindungan bagi anak. Menurutnya, pemerintah, dalam hal ini, Pemprov DKI Jakarta, harus serius menata persoalan perlindungan anak.
”Ini serius, bukan suatu hal yang sepele karena menyangkut keselamatan dan masa depan anak,” jelasnya Pria yang akrab dipanggil Kak Seto itu, menilai minimnya fasilitas mengakibatkan banyak anak dari keluarga miskin tidak terurus oleh negara. Padahal, dalam Undang-Undang Dasar 1945 Negara telah mengamanatkan perlindungan bagi kaum miskin dan anak telantar. ”Fakir miskin dan anakanak telantar dipelihara oleh Negara” begitulah bunyi pasal 34 UUD 1945.
Kak Seto mengatakan anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pembinaan dan perlindungan anak masih di bawah standar, yaitu hanya Rp 184 miliar atau empat persen dari anggaran seharusnya.
Akibatnya, segalanya serba terbatas. Peluang anak-anak mengubah nasib juga terbatas. Jika situasi tak berubah, jarak nasib akan tetap sama. Anak keluarga miskin akan tumbuh dewasa dengan ditemani kelaparan dan derita.
Dibandingkan dengan anggaran bagi kesejahteraan pejabat, dana perlindungan anak jelas masih kalah jauh. Bayangkan, nilai miliaran rupiah dihabiskan hanya untuk membeli mobil baru bagi para menteri.
Jika anggaran mobil menteri dialokasikan bagi perlindungan anak, uang-uang itu mungkin bisa digunakan untuk membangun lima panti sosial anak.
Hal ini seakan menjadi gambaran akan adanya kesenjangan prioritas antara kesejahteraan pejabat dengan kesejahteraan kaum miskin, dalam hal ini anak telantar. Menurut Kak Seto, harapan anak seperti Muktar dan Ani, kini bergantung di pundak pemerintah. ”Kami berharap ada tindakan nyata juga kepedulian pemerintah,” ujarnya.
Presiden, masih menurut Kak Seto, harus mendorong upaya penyelamatan anak, khususnya anak terlantar. Caranya dengan sesegera mungkin menggelar aksi nyata. "Hanya pemerintah yang dapat mengecilkan kesenjangan atau melebarkannya,” kata Kak Seto. c02 ed: teguh s

(-)
Index Koran</a>

21 Maret 2010 - Posted by | Tak Berkategori |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: