ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

– Overactive Bladder!

Meskipun bukan penyakit yang dapat merenggut nyawa, manifestasi overactive bladder membuat sengsara.

Anda pernah kebelet buang air kecil? Setiap orang tentu pernah mengalaminya. Begitu juga dengan Syabilla, sebut saja demikian.

Namun, frekuensi buang air Syabilla jauh dari kata normal. Di mana pun beraktivitas, ia selalu terpikir untuk pergi ke belakang. “Saya nggak bisa jauh-jauh dari toilet.”

Itu pula yang membuat Syabilla enggan bepergian ke lokasi yang toiletnya jauh. Ia khawatir tak akan sampai tepat pada waktunya. “Tiap hari, saya pun harus menjejali tas dengan ekstra pakaian ganti.”

Beberapa kali, Syabilla terpaksa menahan malu. Meskipun kakinya telah berdempet menyilang, berusaha menahan, air seninya tetap saja keluar tak terkendali. “Kadang rok saya sudah telanjur basah sebelum mencapai toilet dan lain waktu terpancar ketika sedang antre di toilet.”

Kendati duduk dekat dengan toilet, di kantor, Syabilla tidak terbebas dari masalah. Ia dikenal sebagai karyawan yang sulit fokus. “Bahkan, saat menanggapi telepon klien, saya terpaksa mencari dalih untuk bisa buang air kecil.”

Apa gerangan yang terjadi pada Syabilla? Pola urinasinya jelas tidak normal. “Mereka yang mengalami tiada hari tanpa berkali-kali kebelet terkena sindrom overactive bladder,” ungkap dr Budi Iman Santoso SpOG.

OAB, begitu nama sindrom ini disingkat, lebih sering ditemukan pada wanita. Pasien pria segelintir saja. “Sekitar 53 persen wanita di Asia terganggu olehnya,” ungkap dokter spesialis obstetrik dan ginekologi ini.

Di Indonesia, tak ada data resmi yang mengungkap berapa banyak perempuan yang terpengaruh oleh OAB. Itu karena orang cenderung menyepelekannya. “Bahkan, di luar negeri yang penduduknya lebih banyak yang berpendidikan pun potretnya tak jauh berbeda,” kata Budi.

Berlangsung kronis
OAB dapat terjadi lintas usia. Mulai usia lima tahun sebetulnya sudah bisa dipantau keberadaan sindrom ini. “Karena banyak yang membiarkan, mayoritas pasien datang ketika sudah berusia lanjut,” papar kepala Departemen Obstetrik dan Ginekologik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

OAB berlangsung kronis. Itulah yang luput diketahui masyarakat. “Andaikan mereka mengenalinya sejak awal, tentu tidak akan telanjur parah mengganggu kualitas hidup,” ujar Budi.

Normalnya, orang berkemih kurang dari tujuh kali sehari. Budi menjelaskan, dorongan untuk buang air kecil baru timbul lagi setelah tiga sampai empat jam kemudian. “Pada orang dengan OAB, baru keluar kamar mandi saja mereka sudah ingin pipis atau perasaan itu bisa muncul hanya dengan mendengar suara aliran air.”

Sebetulnya, kantong kemih memiliki daya tampung yang cukup besar. Ketika terisi 150 cc, orang baru mulai menyadari adanya sensasi awal berkemih, tetapi belum ada desakan untuk segera ke toilet. “Masih bisa ditahan sampai produksinya sekitar 300 cc sampai 350 cc,” jelas dokter dari RS YPK Menteng, Jakarta Pusat ini.

Bikin sengsara
OAB memang bukan penyakit yang dapat merenggut nyawa. Namun, manifestasinya membuat sengsara. Salah seorang pasien Budi bahkan buang air kecil sampai 24 kali sehari. “Sekitar 15 persen jam kerja tersita hanya untuk ke toilet,” ujarnya.

OAB juga berpotensi merenggangkan kemesraan suami-istri. Perempuan menikah yang terkena sindrom penyakit ini kerap menolak berhubungan intim. “Mereka tidak bisa menahan untuk berkemih bahkan ketika sedang bersenggama,” ucap Budi.

Penderita OAB merasakan kebelet kencing bukan saja saat mereka terjaga. Ketika terlelap pun mereka terusik. “Pengidapnya bangun malam satu-dua kali hanya untuk ke toilet,” kata Anggota Dewan Penyantun Perhimpunan Ahli Obstetrik dan Ginekologik Indonesia (POGI) ini.

Orang dengan latar belakang tertentu memiliki faktor risiko untuk terkena OAB. Di antaranya, mereka yang kegemukan, diabetes, merokok, dan kurang gerak. “Juga pada orang dengan riwayat infeksi saluran kemih,” kata dokter yang kerap menjadi pembicara seminar ini.

Budi juga menyerukan agar perempuan tidak mengenakan celana jeans ketat dan menanggalkan kebiasaan memakai pantyliners. Celana yang ketat membuat orang malas buang air kecil. “Sementara pantyliners menciptakan kondisi di sekitar kemaluan menjadi lebih lembab,” tutur Budi.

Selain itu, Budi menyarankan agar setiap perempuan mengubah kebiasaannya menahan keinginan berkemih. Uretra alias saluran kencing wanita panjangnya hanya tiga cm. “Rawan infeksi.” N ed: nina chairani

Overactive Bladder, Bisa Sembuhkah?

Penyakit ‘bolak-balik ke toilet’ ini belum jelas apa penyebabnya. Sepertinya, kontraksi berlebihan pada otot kandung kemih menyebabkan sensasi ingin buang air kecil lebih sering dari biasanya. “Baru terisi 50 cc saja, dorongan berkemih sudah kuat terasa,” ujar dr Budi Iman Santoso SpOG mengilustrasikan.

Seseorang baru bisa diduga mengalami OAB jika frekuensi pipisnya lebih dari delapan kali sehari. Itu pun disertai dengan keinginan buang air kecil yang mendesak. “Rasa ingin kencing bisa tiba-tiba saja muncul,” ungkap dokter dari Divisi Uroginekologi, Departemen Obstetrik dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Lantaran tidak diketahui penyebabnya, dokter belum bisa menyingkirkan OAB dari kehidupan penderitanya. Dokter hanya bisa membantu pasien mengalami penurunan frekuensi, misalnya dari delapan kali sehari menjadi tiga kali sehari. “Hanya ada perbaikan, bukan kesembuhan,” komentar Budi.

Target tata laksananya ialah memangkas frekuensi buang air kecil. Pengidapnya diharapkan bisa menahan keinginan berkemih lebih lama dari sebelumnya. “Kita cari bersama, pasien merasa nyaman dengan urinasi berapa kali sehari,” tutur wakil ketua Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia ini

Lantas, untuk mencegahnya, Budi menjelaskan beberapa trik sederhana. Utamanya, hindari asupan minuman yang bersifat merangsang urinasi, seperti teh, kopi, dan minuman berkarbonasi. “Selain minuman yang berkafein dan bersoda, obat hipertensi juga punya efek yang sama.”

Di samping menjaga minuman, penderita OAB juga disarankan untuk tidak makan dan minum dua jam sebelum tidur. Langkah kecil ini dapat membuat pengidapnya terbebas dari rasa ingin buang air kecil selagi terlelap. “Juga menghindari risiko mengompol.”

Yuk, Latihan Kegel …

Idealnya, kandung kemih masih bisa menahan air seni mulai dari 150 cc. “Pada overactive bladder (OAB), urine dalam volume sedikit saja sudah membuat mereka kebelet,” ungkap Budi. Itu karena OAB yang umumnya merupakan dampak dari kontraksi berlebihan otot kandung kemih.

Orang yang mengikuti program tata laksana OAB harus membuat catatan harian berkemih. Selanjutnya, kuatkan otot kegel. Senam ini bisa dilakukan di mana saja, tanpa orang lain menyadarinya. “Mudah saja, cukup seperti Anda hendak menahan kentut,” papar Budi dalam ‘Healthy Chit Chat’ yang digelar Pfizer belum lama ini.

Senam kegel bisa membantu kontraksi otot dasar panggul. Berlatihlah dengan menahan pipis selama 30 menit. “Jika tidak dikuatkan, kandung kemih atau rahim bisa turun keluar dari vagina,” tutur Budi.

Dengan senam kegel, lanjut Budi, pasien bisa mendapatkan adanya perbaikan. Bahkan, angka keberhasilannya mencapai 70 persen sampai 80 persen. “Senam ini juga dibarengi dengan terapi perilaku agar pasien yang tadinya mungkin buang air kecil setiap jam bisa dipanjangkan waktu desakan berkemih selanjutnya.”

Di samping latihan dan terapi tersebut, penderita OAB terkadang butuh obat. Yang tersedia di Indonesia, salah satunya, Tolterodine tartrate. “Perlu diingat, dengan minum obat sekalipun, penyakit kronis ini tidak bisa instan perbaikan kondisinya,” kata Budi.

Tolterodine tartrate cukup banyak memiliki efek samping. Mulai dari masalah gangguan penglihatan, kesadaran, jantung, dan usus. “Yang paling sering dikeluhkan, terganggunya produksi air liur,” ungkap Budi.

OAB-kah Saya?
Overactive bladder memang termasuk sindrom yang tidak gampang untuk diterima kehadirannya. Namun, terkadang popok bisa dimanfaatkan agar tetap bisa beraktivitas dengan nyaman. “Namun, supaya baunya tidak mengganggu, pastikan Anda mengganti popok yang telah basah,” saran Budi.
Orang yang sering buang air kecil bisa jadi mengalami overactive bladder. Jika Anda menjawab ‘ya’ pada keempat pertanyaan di bawah ini, konsultasikan diri ke dokter uroginekologi. Berikut pertanyaannya.
* Frekuensi buang air kecil di atas 8 kali sehari
* Ada rasa kebelet (urgensi) yang tak tertahankan
* Gejala tersebut menetap selama tiga bulan terakhir.
* Terbangun di malam hari lebih dari satu kali, hanya untuk buang air kecil.

Risiko: Orang dengan latar belakang tertentu memiliki faktor risiko terkena overactive bladder. Di antaranya, mereka yang kegemukan, diabetes, merokok, dan kurang gerak.

Sumber : Republika (Oleh Reiny Dwinanda)

Iklan

1 Komentar »

  1. tulisannya bagus mas bro, saya pria umur 33 mengalami masalah urgensi. kandung kemih belom penuh tapi udah terasa mau pipis.
    latihan kegelnya cukup seperti menahan kencing aja ya…
    thx.

    Komentar oleh sugio | 21 Oktober 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: