ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

– Kota Tua

Kota Tua Punya Siapa

Kota Tua merupakan kawasan bersejarah. Secara administratif, kawasan Kota Tua masuk wilayah Jakarta Barat dan sebagian Jakarta Utara. Luas kawasan Kota Tua mencapai 846 hektare, dengan sebagian besar berada di Jakarta Ba -rat, yang mencakup kawasan Roa Malaka, Pekojan, Tambora, Jem -batan Lima, Kecamatan Tambora, serta Pinangsia dan Glodok, Ke -ca matan Kecamatan Tamansari.

Pada masa Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Kota Tua ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya melalui SK Gubernur No 11 Tahun 1972. Tujuannya adalah melindungi bangunan bersejarah dan objek wisata sejarah. Sesuai peraturan, gedung dipelihara agar tak kehilangan bentuk aslinya, mulai dari eksterior, interior, sampai warna dasar. Pemerintah juga mengharuskan setiap gedung baru dibangun dengan mengikuti gaya arsitektur gedung lama.

Di kawasan ini terdapat empat museum yang letaknya hanya berseberangan jalan atau kurang dari 10 meter. Museum Sejarah Fatahillah, tempat penyimpanan benda purbakala. Museum Wayang dengan koleksi berbagai wayang dari seluruh Indonesia dan mancanegara. Museum Seni Rupa dan Keramik yang menyimpan berbagai koleksi lukisan pelukis Affandi, Antonio Blanco, dan lainnya.

Ada pula bangunan kantor pos yang rencananya akan dijadikan museum perangko. Ada pula satu bangunan bertingkat yang tak terawat. Satu bangunan lain diubah menjadi Batavia Cafe. Puluhan bangunan bersejarah lainnya menghadap ke Jalan Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur. Seluruhya peninggalan Pemerintahan Belanda abad ke-16 atau perkantoran VOC.

Di Kali Besar Barat dan Timur membentang Jembatan Kota Intan. Jembatan ini berkali-kali berganti nama. Dulu, jembatan ini menjadi pintu gerbang masuknya tongkang atau perahu dari laut ke sungai. Sekarang, jembatan itu tidak bisa difungsikan. Bahkan, jembatan dipagar dan tak terawat. Meski Kota Tua memiliki dan merekam sejarah panjang Indonesia, namun keberadaannya seperti tertinggal. Upaya revita -lisasi yang dilakukan selalu menemui jalan buntu. Salah satu faktornya adalah luas wilayah dan jumlah gedungnya yang cukup banyak. Tidak ada data pasti jumlah gedung di Kota Tua, tapi diperkirakan mencapai sekitar 142.

Kepala Seksi Penataan, Pengembangan, dan Publikasi UPT Penataan dan Pengem bang -an Kawasan Kota Tua, Norviadi S Husodo, mengatakan kepemilikan gedung di kawasan Kota Tua terbagi menjadi tiga, yaitu milik BUMN, pemda, dan swasta. Rincinya, sekitar 18 persen¡ªdi antaranya kantor kecamatan dan museum¡ªmilik Pemprov DKI. Sebanyak 12 persen bagian dari Kota Tua, seperti Stasiun Beos dan kantor Pos dimiliki Pemerintah Pusat. Sisanya, sekitar 70 persen milik swasta.

Data dari UPT Kota Tua tahun 2009 menunjukkan bangunan tua milik BUMN yang tidak berfungsi di kawasan Kota Tua berjumlah 23, dengan lima nama pemilik; PT Perusahaan Perdagangan Indo -nesia (PPI) yang memiliki 16 ge -dung, Bank Mandiri tiga ge dung, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) dua gedung, PT Asu -ransi Jasa Raharja satu gedung, dan PT Kimia Farma satu gedung.

Bangunan milik pemerintah hanya empat; yaitu Museum Bank Mandiri, Balai Konservasi, Museum Wayang, dan Museum Seni Rupa dan Keramik. Sisanya dimiliki oleh perorangan. ¡°Yang baru bisa didata hanya gedung yang berada di kawasan Taman Fatahillah,¡± katanya. Norviadi mengatakan, kesulit -an pendataan adalah faktor jumlah dan lokasi, ada juga faktor kepimilikan resmi. Satu bangunan bisa dimiliki lebih dari dua atau tiga pihak. Akibatnya, terjadi klaim tumpang tindih. Master plan untuk pengelolaan kawasan Kota Tua juga belum disetujui DPRD DKI Jakarta. Padahal, master plan ini diharapkan bisa menjadi dasar perge -rakan dan penataan Kota Tua. ¡°Kalau begini, kesannya kita bergerak tanpa arah dan dasar,¡± katanya.

Master plan ini sudah diajukan sejak 2006, tapi prosesnya masih mandek. Sebab, Perda tentang RTRW ikut berpengaruh pada usa ha pengelolaan kawasan Kota Tua. Perda ini belum diresmikan ta pi secara garis besar Perda RTRW akan mengatur perihal penggunaan bangunan sebagai tempat usaha. Kepala Seksi Pengawasan dan Monitoring UPT Kota Tua menga -takan, untuk mengembangkan Ko ta Tua, terutama sektor Taman Fatahillah cukup rumit. ¡°Sulit mengamankan ruang terbuka,¡± katanya. Apalagi ada enam titik pintu masuk menuju lokasi ini. Pemerintah pun tidak bisa semena-mena menutup akses ruang terbuka milik publik itu.

Akibatnya, yang bisa dilakukan hanyalah upaya pembatasan wilayah dengan prosedur seadanya. Misalnya, pelarangan pedagang masuk kawasan Taman Fatahillah, pemasangan tali di sekitar wilayah, hingga pengalihan fungsi bola beton sebagai penghambat kendaraan masuk. Salah satu pemilik bangunan di kawasan Kota Tua, Ella Ubaidi, menyatakan, tak bisa menginvestasikan gedungnya karena kawasan masih acakacakan. ¡°Bingung. Di depan rumah kita mau diapakan,¡± katanya.

Padahal, gedungnya atau gedung-gedung kosong bisa difungsikan.¡± Menurut anggota Paguyuban Kota Tua Seksi Taman Fatahillah dan Kali Besar Timur ini, Kota Tua tidak bisa ditata secara sporadis. Dibutuhkan satu grand design penataan kawasan secara detail dan serius. ¡°Kalau tidak ada, jadi tidak je -las mau dibawa ke mana pena ta -an Kota Tua ini,¡± katanya. ¡ö c22

Sumber.

2 Komentar »

  1. Tidak pernah ada bosan-bosannya saya pergi wisata ketempat ini meski pun saya sering banget ke Kota Tua. 🙂

    Komentar oleh Ridwan Husaini | 5 Maret 2011 | Balas

  2. :)aku suka

    Komentar oleh novita sarii | 23 Maret 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: