ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

– China Town

Mengunjungi China Town Jelang Puasa
Menjelang bulan Ramadhan, setidaknya ada tiga pasar di Jakarta yang pengunjungnya berjubelan. Seperti Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat keduanya dibangun bersamaan: 30 Agustus 1735 atawa 275 tahun silam.  Sejak puluhan tahun lalu, kedua pasar ini ramai didatangi pembeli terutama menjelang Lebaran. Sebuah pasar tua lainnya adalah Glodok yang dikenal dengan sebutan China Town. Warga Cina, sebelum terjadi peristiwa Oktober 1740, berupa pembantaian etnis Tionghoa tinggal di tempat yang sekarang ini berdiri jalan layang ( fly over ).

Setelah tragedi berdarah itulah mereka diharuskan pindah di luar tembok kota yang bernama Glodok. Berasal dari suara air berbunyi  grojok …grojok …<k> yang mengalir sepanjang Kali Ciliwung (Kanaal Molenvliet). Maksudnya, kalau mereka mengulangi perbuatannya akan ditembak dengan meriam.

Menjelajahi China Town dari Taman Stasion Kereta Api BEOS, stasion yang tiap hari didatangi puluhan ribu penumpang, kita memasuki Jalan Pintu Besar Selatan (Buitennieuwpoortstraat), Di tempat ini pada abad ke-18 terdapat sebuah pintu besar sebagai gerbang untuk memasuki tembok kota Batavia. Di dekatnya juga terdapat Jalan Pintu Kecil, gerbang masuk yang lebih kecil. Di dekatnya terdapat Gang Ribalt (kini Jalan Pintu Besar Selatan) – diambil dari nama seorang ahli bedah Prancis yang pernah tinggal di jalan ini.

Konon, karena peralatan dan obat-obatan belum canggih dan belum ditemukan obat bius, di antara ahli bedah di Batavia terdapat tukang cukur. Tidak heran ada yang sehabis membedah pasien di pagi hari, sorenya berprofesi sebagai tukang cukur. Kita dapat membayangkan bagaimana sakitnya  pasien saat menjalani operasi. Seperti yang terlihat dalam film-film koboi yang menceritakan situasi abad ke-19.

Orion dan Pos Polisi
Menelusuri Jalan Pinangsia – yang tidak pernah henti dari kemacetan – di masa Belanda bernama Financienstraat yang oleh penduduk Belanda ini mereka sebut Pinangsia. Konon di abad ke-18 di jalan ini terdapat kantor urusan keuangan, sebelum dibangun Javashe Bank depan Beos, Di selatan jalan ini terdapat Plaza Orion yang dulu merupakan bioskop.

Bioskop ini menggelar film-film Mandarin. Di sampingnya terdapat kantor polisi Seksi III (kini semacam Polsek). Bioskop dan pos polisi ini kemudian dibangun pertokoan Harco pusat perdagangan elektronik terbesar di Jakarta. Yang membangun seorang keturunan Arab bernama H Abubakar Bahfen. Hanya beberapa meter ke arah selatan terdapat pertokoan Lindeteves di Jalan Hayam Wuruk. Lindeteves, nama perusahaan Belanda yang  menyuplai kebutuhan Batavia. Sebelum penyerahan kedaulatan terdapat lima besar perusahaan Belanda yang memiliki ratusan armada kapal. Di samping Lindeteves, empat perusahaan lain adalah Geo Wehry, Internatio, Borsumij, dan Jacobson Van den Berg.

Di depannya, di Jalan Gajah Mada tidak jauh dari Pasar Glodok terdapat kediaman Mayor Khouw – pemimpin masyarakat Cina – yang memiliki 14 istri  dan 24 anak tinggal dalam satu atap. Belum lagi ratusan budak belian yang tiap waktu siap melayani sang  taipan alias  god father ini.

Sayang, gedung bersejarah ini sebagian besar dibongkar dan dijadikan mal. Menunjukkan bagaimana tempat-tempat bersejarah tidak dilestarikan di negeri. Bersebelahan kediaman Mayor Khouw yang setelah kemerdekaan bernama Sin Ming Hui, terletak Kedutaan Besar RRC. Pada Oktober 1965, setelah G30S gedung antik  dengan pekarangan besar dibakar massa karena keterlibatan RRC dalam G30S, .

Patekoan

Memasuki China Town yang kini  siap menghadapi puasa– terdapat Jalan Jelakeng berasal dari kata Jie Lak Teng (delapan pintu). Di dekatnya terdapat Toko Tiga dan Pasar Pagi yang kini telah dipindahkan ke Mangga Besar. Masih di China Town, terdapat Jalan Pa Tie Kai yang artinya delapan jenazah. Dinamakan demikian, karena pada waktu kerusuhan Oktober 1740, delapan suhu (guru) silat yang mempertahankan diri terbunuh oleh pasukan VOC.

Warga Cina yang sampai kini masih kental dengan tradisi leluhur mereka kita masih dapati sejumlah kelenteng yang banyak  pengunjungnya. Seperti di Petak Sembilan terdapat Kelenteng Kim Tek Ie (Jindeyuan) yang didirikan oleh seorang letnan Cina sekitar 1650 dengan nama Koam Im Teng. Kelenteng ini pernah dibakar pada kerusuhan 1740. Setelah dibangun kembali, diberi nama Kim Tek Ie oleh seorang kapiten Cina pada 1755. Di Jalan Kemenangan III dulunya bernama Jalan Toasebio. Karena di sini terdapat kelenteng Tek Se Bio yang letaknya berseberangan dengan Gereja Santa Maria de Fatima. Tempat ibadah umat Katolik ini  merupakan rumah seorang hartawan Cina. Dijadikan gereja ketika sejumlah misionaris Katolik diusir dari RRC dan di Jakarta mereka menjadi biarawati.

Di Patekoan, seperti daerah Glok lainnya, kita dapati banyak ahli main  kuntau atau silat yang kebolehannya perlu diacungkan jempol. Cerita silat sampai saat ini banyak digemari setelah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Lebih-lebih saat dimuat di koran  Sin Po dan  Keng Po . Di antara penulis cerpen silat yang digemari adalah Kho Ping Ho dan Gan K.L.

Setelah Perang Dunia II (1942-1945), warga Tionghoa di Jakarta terjadi pertentangan yang hebat. Di satu pihak mereka pro komunis (Mao Ze Dong) dan di lain pihak pro Chiang Kai Sek (Taiwan). Pertentangan ini cukup memanas. Ada yang memasang bendera RRC dan Taiwan di kediamannya. Di dekat Glodok terdapat Pekojan, di kelurahan Tambora. Warga Tionghoa yang tinggal berdekatan hampir tidak berani  merokok dan makan di luar rumah saat bulan Ramadhan. Solidaritas ini masih bertahan sekalipun saat ini mayoritas penduduk Pekojan bukan lagi keturunan Arab, tapi Tionghoa.

Sumber: Republika online.

Iklan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: