ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

– Said Effendi

Said Effendi(Seniman Musik)
Said Effendi menjadi pujaan khalayak sekitar tahun 1950-an, ketika irama Melayu-Deli merajai pasaran musik. Said Effendi menerima berkarung-karung surat dari penggemarnya. Orang akan tertegun, jika mendengar suaranya berkumandang di radio atau piringan hitam, tinggi, lengking, dan padat, tanpa kehilangan kelenturannya. Terutama setelah menyanyikan lagu Seroja ciptaan Husein Bawafie, Said Effendi mengecap masa keemasan. Sering disangka sebagai anak Medan apalagi menilik gaya bicaranya sehari-hari.
Said Effendi lahir di Besuki, Jawa Timur, dari suku Madura. Masa kecilnya terbilang suram. Baru berusia 6 tahun, Said telah ditinggal ibunya untuk selamanya. Ayahnya yang berusaha sebagai pedagang keliling sering meninggalkan rumahnya. Sekolahnya tak menentu. Suatu ketika ia bahkan dikeluarkan dari sekolah. Tapi sejak usia 5 tahun ia biasa bangun pagi, berangkat ke surau untuk melantunkan adzan.
Keluar-masuk sekolah, Said akhirnya ikut seorang kerabat menjadi nelayan. Tapi ayahnya tak senang. Dia diberi barang dagangan, disuruh berkeliling ke kampung-kampung. Dalam pengembaraan itulah Said berjumpa dengan seseorang, yang menawarkan kepadanya untuk dididik menjadi penyanyi. Maka pada usia 13 tahun ditahun 1936, ia menjadi penyanyi orkes keroncong. Penghasilannya 1 gulden semalam, atau sama nilainya dengan 25 liter beras. Tapi setahun kemudian ia ditarik seorang pamannya ke Bondowoso, disuruh belajar lagi di Madrasah Al Irsyad. Di sana Said mendirikan klub musik. Sebuah medali emas 15 gram konon masih tergantung di madrasah itu, hasil kemenangan perkumpulan musik yang dipimpin Said dalam salah satu kontes stambul. Sekolah itu ditutup Jepang karena berbau politik. Ia sempat memimpin rombongan musik ke Pontianak. Dari sana kembali ke Jakarta. ketika RRI mencari penyanyi untuk Orkes Studio Jakarta, dari 36 orang pelamar, dia salah seorang dari dua yang diterima. Lainnya adalah Sal Saulius. Sal pula yang membimbingnya mengenal not hingga dapat mencipta.
Lagu pertamanya Asmara Dewi tahun 1948, setahun kemudian disusul Bahtera Laju. Nama dan suaranya kian tenar. Menciptakan sekitar 40 buah lagu, Said memimpin Orkes Melayu Irama Agung, yang mengiringi suaranya dalam rekaman. Setelah Said membintangi beberapa film sebagai pemeran pembantu, sutradara Asrul Sani mempercayakan padanya peranan utama dalam Titian Serambut Dibelah Tujuh. Tapi namanya lebih dikenang sebagai penyanyi. SMaret 1980 ia bekerja sebagai pengurus keanggotaan Kine Club di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Sumber: Catatan Tokoh Indonesia.
%d blogger menyukai ini: