ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

- Taman Nasional Bunaken

“Nyiur Melambai” di Antara Eksotisme dan Kemajemukan

Keindahan Taman Nasional Laut Bunaken telah puluhan tahun menyedot perhatian dunia. Namun, aktivitas masyarakat yang kian tak terkendali berpotensi mengancam eksotisme dan kehidupan biota laut di jazirah utara Pulau Sulawesi itu.

Mendekati Bunaken dengan perahu yang disewa dari Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), seluruh bagian dari alam Bunaken itu terlihat seperti lukisan. Gunung yang menjulang, dereten nyiur yang melambai, bagaikan lukisan alam yang menebar pesona.

Kian mendekati pantai, giliran lanskap bawah lautnya yang jernih, menarik mata untuk dipandang. Berbagai terumbu karang hidup berdesakan di atas kontur dasar laut dengan kedalaman beragam.

Sesekali, ikan-ikan karang beraneka warna menyembul dan meliuk-liuk di antara karang. Sedikitnya 2.000 jenis ikan hidup di taman nasional seluas 89.065 hektar tersebut. Di antara ikan-ikan itu terdapat ikan langka, seperti ikan purba coelacanth yang sebelumnya sudah dianggap punah serta mandarin fish dan ghost pipe fish.

Pantas saja sejumlah tokoh dunia menjuluki Bunaken taman laut terindah di dunia. Sebutlah, misalnya, peneliti dan biolog Alfred Russel Wallace pada tahun 1895, Pangeran Bernhard dari Belanda tahun 1978, dan Ratu Beatrix, putri Bernhard, tahun 1995.

Pamor Bunaken makin mengglobal tahun 2009 ketika 2.600 peselam dari sejumlah negara menyelam bersama-sama di Bunaken guna memecahkan rekor dunia, meski pamor itu juga naik-turun. Perairan Bunaken—sebagian—mulai tercemar sampah yang mengalir dari Manado. Sampah itu terbawa arus laut ke Bunaken, yang berjarak sekitar 15 kilometer.

Sampah plastik yang berserakan menjadi salah satu pemandangan yang mengusik kenyamanan di sekitar Bunaken. ”Hampir setiap akhir pekan kami bersama warga Bunaken harus membersihkan sampah. Namun, apa daya? Selama pengunjung dan warga Manado masih membuang sampah sembarangan, sampah akan tetap mengotori perairan ini,” kata Randy Montolalu, Ketua Dewan Instruktur Selam Persatuan Olahraga Selam Indonesia Sulut, yang telah mempromosikan Bunaken sejak 1978.

Keanekaragaman hayati Bunaken terancam oleh penangkapan ikan karang bernilai ekonomi tinggi di zona inti, zona tempat ikan berkembang biak, yang dilarang untuk penangkapan ikan. ”Lebih parah lagi, mereka kerap menggunakan bom ikan dan racun sianida,” kata Armaianti, Koordinator Perencanaan Balai Taman Nasional Bunaken.

Upaya pemerintah menampilkan berbagai atraksi kebudayaan lokal, dengan membangun teater terbuka, kurang mencolok hasilnya karena lokasinya kini ditumbuhi rumput liar, tersembunyi di balik jejeran kios rumah makan dan suvenir.

Untunglah, Bunaken tetap dilirik. Sedikitnya 500 wisatawan, lokal dan asing, masih datang ke Bunaken setiap pekan. Kedatangan mereka bukan melulu karena keindahan Bunaken, melainkan juga karena eksotisme alam daratan Sulut. ”Kota Bunga” Tomohon, misalnya, 25 kilometer dari Manado, jadi daya tarik lain.

Untaian bunga krisan, gladiol, anggrek, dan beragam lainnya terlihat di kios-kios bunga yang ada sisi kiri-kanan jalan-jalan utama kota sejuk itu. Hamparan tanaman bunga juga menghiasi halaman rumah warga dan kantor-kantor pemerintah. ”Keuntungannya lumayan,” ujar Nelson Ponamon, petani tanaman hias di Kakaskasen III, Kecamatan Tomohon Utara.

Geliat ini kian terlihat seusai Tournament of Flowers, dua tahun lalu. Akhir Juli lalu, acara serupa digelar dan menyedot 10.000 wisatawan dalam dan luar negeri.

Warna-warni bunga melengkapi keindahan panorama dua gunung, Gunung Mahawu (1.328 meter) dan Gunung Lokon (1.550 meter), yang mengapit kota seluas 14.721 hektar itu. Bunaken dan Tomohon merupakan bagian dari 503 obyek wisata alam, budaya, dan kuliner yang tersebar di 15 kabupaten/kota.

Sulut yang bersentuhan dengan Samudra Pasifik sejak abad XVI juga merupakan jalur perdagangan rempah-rempah poros Malaka-Maluku. Itu sebabnya, Sulut dengan mudah disinggahi pelaut dari Arab, China, Portugal, Spanyol, Inggris, dan Belanda.

Mengapa Sulut juga pernah jadi tempat pembuangan pejuang nasional yang melawan Belanda seperti Imam Bonjol dan Kyai Maja, pengikut Pangeran Diponegoro? Tentulah itu sekadar bukti, kawasan itu begitu lama dipilih menjadi center point karena kekayaannya.

Persentuhan warga asli Sulut, yaitu suku Minahasa, Bolaang Mongondow, Sangihe, dan Talaud, dengan beragam budaya luar—menurut dosen sejarah Fakultas Sastra, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Ivan RB Kaunang—membuat orang Sulut terlatih bertoleransi. Acara Lebaran Ketupat di Kampung Ternate Baru, Kecamatan Singkil, Manado, Sulut, dan di Pulau Bunaken, pekan lalu, misalnya, adalah contoh konkretnya.

Keguyuban ini setidaknya berhasil mencegah konflik sosial yang belakangan ini marak. Saat Maluku Utara dilanda konflik SARA sepuluh tahun lalu, Sulut tenang-tenang saja.

A Ponco Anggoro dan Aswin Rizal Harahap (KOMPAS.com)

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: