ARS's Blog

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

- Kanker…?

Kanker, Bukan, Ya?

Beberapa cara digunakan untuk menguji keganasan ‘daging’ tumbuh dalam tubuh kita.

Memiliki benjolan tak wajar di bagian tubuhnya, banyak orang khawatir itu adalah kanker. Padahal, bisa jadi daging tumbuh tersebut bukan sel ganas. Lantas, bagaimana cara mengenali kanker?

Dr Lyana Setiawan SpPK menjelaskan, tumor merupakan daging tumbuh yang jinak. Tumor umumnya memiliki selubung dan tidak menempel ke jaringan lain. “Jika digoyangkan dari luar, benjolannya dapat bergerak bebas.”

Sementara itu, kanker akan muncul seperti ‘kepiting’, cancer dalam bahasa Inggris. Ia mencapit jaringan di sekitarnya. “Ini penyakit keganasan,” jelas Lyana.

Namun, itu saja belum cukup untuk membuktikan kejinakan daging tumbuh. Dokter kerap memerlukan pemeriksaan dengan cara biopsi. “Dokter akan mengambil sedikit jaringan terluar dari gumpalan daging itu,” urai dokter spesialis patologi klinik ini.
Selain biopsi, ada pula pemeriksaan dengan tumor marker. Namun, petanda tumor ini tidak bisa menggantikan biopsi. “Tak tertutup kemungkinan, dengan pemeriksaan lain, disimpulkan jinak, tidak membesar, ada selubung kapsulnya. Tapi, ketika dibiopsi, tampak sudah menyebar,” kata Lyana.

Fenomena itu terjadi karena tumor marker yang ada belum memenuhi kriteria ideal. Semestinya, petanda tumor hanya positif pada pasien dengan keganasan, berkorelasi dengan stadium, dan menunjukkan respons terhadap pengobatan. “Inilah yang membuatnya tidak bisa diandalkan untuk menentukan jinak-ganasnya massa yang tumbuh di tubuh.”

Alat deteksi dini
Lalu, apa gunanya tumor marker? Lyana menuturkan, pemeriksaan ini dipakai sebagai alat deteksi dini. “Standar emas dalam pengobatan kanker ialah diagnosis yang cepat dan disusul oleh tindakan medis.”

Lyana memberi saran agar orang yang di keluarganya memiliki riwayat kanker memeriksakan diri. Terlebih, jika mereka mengalami kemerosotan berat badan dalam beberapa bulan terakhir. “Di sinilah tumor marker berperan.”

Apa sebetulnya tumor marker? Petanda tumor adalah zat yang ditemukan dalam darah, urine, atau jaringan tubuh. “Kadarnya akan meningkat ketika orang terserang kanker,” kata dokter dari RS Kanker Dharmais ini.

Tumor marker yang spesifik bisa dikaitkan dengan keberadaan jenis jaringan kanker tertentu. Misalnya, CEA yang diproduksi oleh kanker saluran cerna, payudara, dan paru. “Ini dipakai bukan untuk menegakkan diagnosis, sebatas prognosis, dan kepentingan pemantauan,” tegas Lyana.

Jika digunakan dalam kombinasi dengan berbagai pemeriksaan-fisik maupun pencitraan-petanda tumor dapat meningkatkan nilai diagnostik. ed: nina chairani

Mengenal Tumor Marker

Tumor marker apa yang menunjukkan adanya kanker? Berikut penjelasan Dr Lyana Setiawan SpPK.

Prostate-specific Antigen (PSA)
PSA merupakan petanda tumor yang paling sering diperiksa keberadaannya. Antigen ini menjadi petunjuk adanya keganasan pada prostat. “Secara normal, PSA terdapat dalam kadar rendah pada semua pria dewasa (N: 0-4s ng/ml,” jelas Lyana.

Petanda ini spesifik untuk jaringan prostat. Namun, PSA tidak spesifik untuk kanker.
“Sebab, kadarnya dapat meningkat. Selain pada kanker, juga saat ada peradangan atau pembesaran prostat jinak. PSA pun bervariasi menurut ras serta meningkat sejalan usia,” tutur alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Terkait kanker, PSA terbilang sangat sensitif untuk kanker prostat. Peningkatan PSA erat kaitannya dengan stadium dan besarnya tumor. “PSA juga dapat memprediksi kekambuhan dan respons terhadap obat,” ujar Lyana seraya menyebutkan kombinasi pemeriksaan rectum dengan PSA patut dijalankan untuk deteksi kanker prostat.

Carcinoembryonic Antigen (CEA)

CEA merupakan protein yang ditemukan pada banyak jenis sel. Namun, ia dapat dikaitkan dengan tumor dan janin yang sedang berkembang. “CEA dalam darah, pada orang dewasa, kadarnya kurang dari 5 ng/ml,” papar Lyana.

CEA dapat meningkat pada berbagai jenis kanker. Termasuk, kanker kolon, pankreas, lambung, paru, dan payudara. “Namun, CEA juga tampak tinggi pada keadaan lain, seperti sirosis, penyakit radang usus (inflamatory bowel disease), penyakit paru kronik, dan pankreatitis,” ucap Sekretaris II Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik cabang Jakarta ini.

Perlu diingat, CEA tidak dapat dipakai untuk skrining. Sebab, kerap terjadi positif palsu. Namun, petanda tumor ini bisa dipakai untuk memantau perjalanan penyakit berikut respons terhadap terapi kanker payudara, paru, pankreas, lambung, dan ovarium. “CEA bahkan mempunyai nilai prognostik untuk pasien dengan kanker kolon dan bisa dipergunakan untuk pemantauan kekambuhan,” kata Lyana.

Pemantauan kadar CEA untuk memeriksa kekambuhan harus dilakukan tiap tiga bulan. Hasil pemeriksaannya harus didokumentasikan dengan baik. “Peningkatan CEA di atas nilai awal harus dipastikan betul-betul karena itu merupakan petunjuk untuk melakukan operasi ulang,” ujar Lyana.

CEA juga berguna untuk memantau kebehasilan pengobatan kanker kolon. Lyana menjelaskan, kadarnya akan kembali normal dalam satu sampai dua bulan setelah pembedahan. “Kalau tetap meningkat, kita harus mewaspadai penyakitnya masih ada.”

Alpha Fetoprotein (AFP)

AFP adalah protein janin normal yang disintesis oleh hati, kantong kuning telur, dan saluran cerna. Ia merupakan bagian utama dalam plasma darah janin dan kadarnya akan turun dengan cepat setelah lahir. “Pada orang dewasa, kadarnya kurang dari 10 ng/ml,” ucap Lyana.

AFP berperan penting dalam diagnosis kanker hati. Bisa juga dipakai untuk skrining kanker hati, khususnya pada populasi berisiko tinggi. “Selain itu, AFP juga petanda untuk kanker sel benih (germ cell carcinoma),” papar Sekretaris Himpunan Kimia Klinik cabang Jakarta ini.

Lyana menuturkan, AFP dapat meningkat menyusul kehamilan normal atau penyakit hati jinak, seperti hepatitis atau sirosis. Peningkatan kadarnya pada kondisi bukan kanker biasanya kurang dari 500 ng/ml.”

Ca 15-3

Ini merupakan antigen yang digunakan untuk memantau aktivitas kanker payudara. Kadar Ca 15-3 meningkat pada 60 sampai 80 persen kasus kanker payudara metastatik. “Kadarnya sebanding dengan perjalanan penyakit dan respons terhadap terapi,” ungkap Lyana.
Ca-125
Ca-125 merupakan antigen yang ditemukan pada 80 persen kasus karsinoma ovarium nonmusinosa. Petanda ini terlihat meningkat pada pasien kanker ovarium, endometrium, pankreas, paru, payudara, dan kolon. “Namun, karena prevalensi kanker ovarium rendah, pemeriksaan ini tidak dapat digunakan secara tersendiri untuk screening,” ujar Lyana.

Ca 19-9

Ini merupakan antibodi monoklonal yang dihasilkan terhadap suatu galur sel kanker kolon. Kadarnya meningkat pada 21 sampai 42 persen kasus kanker lambung. “Ca 19-9 juga tinggi pada 20 sampai 40 persen kasus kanker kolon dan sekitar 71 sampai 93 persen kasus kanker pankreas,” urai Lyana.

Meningkatkan Kewaspadaan

Dr Lyana Setiawan SpPK melihat masyarakat belum begitu memahami kanker. Alhasil, kebanyakan pasien datang dalam stadium lanjut. “Padahal, ada kanker yang bisa dideteksi dini.”

Deteksi dini kanker prostat, misalnya, patut dilakukan oleh pria yang sudah berusia 50 tahun. Pemeriksaan berkala sangat baik untuk dilakukan. “Namun, memang tarif pemeriksaannya masih mahal,” kata Lyana dalam seminar di RS Kanker Dharmais, Selasa (13/7) lalu.

Sementara itu, untuk kalangan perempuan, Lyana menyerukan pemeriksaan pap smear secara berkala. Langkah ini utamanya diperlukan oleh mereka yang melahirkan banyak anak, menikah dini, berganti-ganti pasangan intim, atau sudah berusia lebih dari 50 tahun. “Pemeriksaan ini dapat mendeteksi kanker serviks apalagi jika Anda sering keputihan dan pendarahan.”

Selain itu, Lyana menganjurkan perempuan melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Jika ditemukan benjolan, segeralah memeriksakan diri ke dokter. “Sedangkan, mamografi baiknya tidak terlalu sering, cukup lima tahun sekali untuk yang sudah berusia lebih dari 30 tahun.”

Jika ditemukan adanya benjolan, jinak ataupun ganas, pasien harus meminta penjelasan detail. Pasien sebaiknya paham betul status kesehatannya. “Ketidakmengertian akan menghalangi peluang sembuh,” ungkap Lyana.

Pasien kanker hendaknya menyadari bahwa mereka menjalani pengobatan jangka panjang. Bahkan, kerap diperlukan kombinasi beberapa terapi. “Ada kemungkinan kambuh jika sempat terjadi putus terapi,” kata Lyana.

Kanker memang menjadi penyebab kematian nomor tiga di Indonesia. Namun, jangan putus semangat. “Jika dideteksi secara dini atau diterapi dengan tepat, peluang memenangkan perang terhadap keganasan sel tentu akan lebih besar,” kata Lyana menandaskan.

Sumber: Republika (Reiny Dwinanda)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.