ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

- Misteri Buni.

Misteri Buni di Ladang Minyak Bekasi.

Waktu menunjukkan pukul 09.10 WIB. Namun, matahari di atas Kecamatan Babelan tepatnya di Desa Buni Bakti telah begitu terik menerpa hamparan ratusan hektare sawah. Rumah-rumah penduduk menyebar, tak terlalu padat. Di beberapa bentangan sawah, terlihat kobaran api.

Itu pengeboran minyak yang sedang melakukan proses produksi, ujar H Naryo, tokoh Bekasi berusia 60 tahun, seraya menunjuk beberapa titik pengeboran minyak tak jauh dari kediamannya. Lapangan minyak Pondok Tengah (PDT) di Kecamatan Babelan kali pertama ditemukan tahun 1999. Kegiatan eksplorasi skala komersial dimulai pada 2003.

Temuan minyak adalah berkah bagi Pertamina, tapi tidak bagi kelangsungan konservasi purbakala di sekitarnya. Bahkan, mung kin juga tidak bagi penduduk yang sekian tahun bertani seraya mencari harta karun peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tidak ada yang menyangka terdapat minyak di Bekasi. Terlebih, setelah tahun 2003 dilakukan pengeboran skala komersial, Pertamina menemukan tambahan cadangan di sekitarnya.

Namun, bagi Abid Marzuki, pemerhati sejarah Bekasi, temuan minyak itu tak mengherankan. Dalam tesisnya, Prof Ali Husni mengatakan, di mana ada per -adaban besar, di situ akan ditemukan minyak,¡± katanya kepada Republika, Senin (14/6). Buni, menurut Abid, adalah pusat Kerajaan Tarumanegara. Sejarah Indonesia modern dimulai dari desa ini atau lebih luasnya dari Bekasi.

Bukti kejayaan Tarumanegara tertulis di Prasasti Tugu yang ditemukan di Cilincing, Jakarta Utara. Para ahli arkeologi menyatakan, Prasasti Tugu dibuat pada abad kelima Masehi oleh Purnawarman, raja Tarumengara. Pada pemerintahannya selama 22 tahun, Purnawarman membangun irigasi sepanjang 12 kiloeter dalam waktu 21 hari. Saluran irigasi itu saat ini dinamakan Kali Bekasi.

¡°Bayangkan, betapa hebatnya kemajuan pertanian, peternakan, dan pembangunan pada zaman itu,¡± ujar Abid, keponakan tokoh besar Bekas, KH Nur Ali. Denny Brathan Affandi, dalam buku Menyusuri Bekasi Raya, menulis bahwa jejak Taruma negara ditemukan pada 1958. Adalah seorang petani yang kali pertama membuka jejak Tarumanegara. Saat itu, ia menemukan emas di dalam periuk kuno.

Engkong Muan bin Sulan, warga Desa Buni, mewariskan cerita ini. Menurutnya, Dugul bin Bulo menemukan emas di kubang kepiting sawah¡ªbiasa disebut yuyu¡ªsaat sedang menggarap sawah milik H Jari di Keramat Bendungan, Desa Muara Bakti.

Dugul melihat yuyu menjapit benda kecil berbentuk anting,¡± ujar Kong Muan. ¡°Ia penasaran dan mencangkul lubang yuyu itu. Ternyata, di dalamnya terdapat sekumpulan perhiasan emas.¡± Dugul, cerita Kong Muan, lari ke kampung dan berteriak. Seluruh warga kampung keluar untuk melihat temuannya dan mendatangi sawah tempat temuan.

Warga membawa apa saja untuk menggali,¡± kata Kong Muan dalam logat Betawi yang kental. Semua menggali. Petani tak lagi membajak sawah, tapi menggali dengan harapan menemukan harta karun. Penggalian tidak hanya dilakukan di sepanjang Kali Bekasi, tapi juga di dalam rumah.

Sejak temuan itu, Buni menjadi ramai. Warga tak sekadar menemukan emas, tapi juga gerabah, peralatan dari zaman bagu, dan lainnya. Budi menjadi ramai. Tengkulak emas dan kolektor benda purbakala berdatangan. Keramat Bendungan menjadi pasar emas. ¡°Siang malam orang berdagangan. Yang dijual bermacam-macam, mulai dari cincin, kalung, anting, dan lainnya,¡± kata Kong Muan. ¡°Ada pula yang menjual tapal kuda, gerabah, dan logam-logam lainnya.

H Naryo mengatakan, pasar emas mencakup luas lima hektare. Kong Muan, yang saat itu berprofesi sebagai penabuh gendang kelompok wayang, mengatakan, jika penggalian menemukan tulang belulang, warga yakin akan ada emas di bawahnya. Tahun 1960, para arkeolog datang ke Bekasi untuk menyelamatkan daerah yang sudah berantakan akibat penggalian liar. Mereka melakukan survei dan penelitian dalam tiga tahap: 1964, 1969, dan 1970.

Arkeolog menemukan berbagai artefak dan mulai menyusun teori. Buni diduga merupakan sebuah kota yang masyarakatnya sudah mengenal tradisi pengubur an langsung. Masyarakat saat itu memakamkan jenazah bersama barangbarang miliknya, artefak perunggu, gerabah, beliung, perhiasan emas, gelang kaca, manik-manik batu dan kaca, serta bandul jaring.

Tidak hanya di Buni, temuan serupa terdapat di Karawang. Arkeolog menyebut daerah tempat ditemukan benda-benda itu sebagai Kompleks Buni. Ada pula yang menyebut Horison Bun. Pusat keagamaan Tarumanegara berada di sebelah timur Kali Citarum dan pusat pemerintahan berada di sebelah barat Kali Citarum. Di sebelah timur, ditemukan Candi Jiwa di Karawang, yang bentangannya 10 kali lebih luas dari Candi Borobudur.

¡°Bisa dibayangkan, Taruma negara memang besar. Nah yang menjadi pertanyaan besar saat ini adalah di manakah letak atau titik peradaban Tarumanegara itu berada, kata Abid menegaskan. Buni belum tergali secara keseluruhan. Para arkeolog yakin betapa banyak peninggalan arkeo logis di perut Buni yang ma sih tersimpan, yang bisa mengurai misteri masa lalu Bekasi. Namun, temuan minyak menyebabkan semua itu akan terkubur lagi sekian lama. c32 ed: teguh setiawan

Sumber: Republika

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: