‘Sang Pencerah’ Sisi Lain Kiai Ahmad Dahlan
Film ini menekankan keteguhan hati pemuda Ahmad Dahlan.
Apa yang telah Anda lakukan ketika usia masih di kisaran 21 tahun? Pertanyaan dasar itulah yang ditodongkan Hanung Bramantyo ketika mengawali pembuatan Sang Pencerah.
Sang Pencerah merupakan karya biographi pictures (biopic) perdana dari sutradara kelahiran Yogyakarta, 34 tahun lalu itu. Sosok yang coba dihidupkannya ke dalam versi layar lebar itu adalah pendiri Muhammadiyah, KH A Dahlan.
Dalam film ini, Hanung tak hanya menghadirkan rangkaian kisah Dahlan semata. Jauh yang lebih mengusik hatinya, Hanung sebenarnya ingin mengajak generasi muda zaman sekarang untuk melihat seratus tahun ke belakang tentang sosok anak muda bernama Ahmad Dahlan.
Niat yang awalnya sangat sederhana untuk mengubah arah kiblat Masjid Besar Kauman ternyata memberikan dampak begitu besar bagi Kauman dan negeri ini. Muhammadiyah sebagai sebuah pergerakan pendidikan dan kesehatan berbasis umat Islam terlahir dari sebuah semangat juang yang telah dirintis Dahlan sejak usianya masih 21 tahun.
Dalam membungkus cerita ini, Hanung menggarapnya secara istimewa. Dalam hal penulisan skenario, setidaknya Hanung membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk merampungkan cerita. Ia ingin cerita masih bisa menjual, tetapi juga tetap terjaga berada dalam koridor ketokohan Ahmad Dahlan.
Memang, jika kita berkaca pada tren pasar film pada masa kini, cerita yang coba diberikan pada Sang Pencerah ini tidaklah terlalu menjual efek dramatis dari kisah percintaan tokoh yang ada di dalamnya. Sebutlah jika pembandingnya itu Ayat Ayat Cinta yang juga digarap Hanung.
Namun, sebuah karya tentunya tetap memiliki aspek cerita yang unik. Dalam film ini, Hanung seperti ingin lebih menekankan nilai-nilai keteguhan dari sosok Ahmad Dahlan dalam mewujudkan ide.
Walau demikian, ada beberapa hal yang mungkin akan memberikan perspektif baru buat Anda. Setidaknya, hal ini bisa menambah perspektif warga Muhammadiyah dalam memandang Ahmad Dahlan. Dahlan, sosok yang tak banyak berbicara itu, ternyata juga piawai dalam memainkan biola. Kemampuan itu ia perlihatkan dalam mengajar. Hanung juga cukup apik menyelipkan sebuah edukasi-jika itu tak mau disebut kritikan-ketika ia menjelaskan makna agama.
Dahlan tidak memberikan jawaban tekstual seperti yang sudah biasa dijelaskan para ulama maupun kiai di kampungnya. Akan tetapi, ia mengawalinya dengan sebuah permainan biola dengan alunan musik yang begitu sentimental dan halus. Lewat permainan biola tadi, Hanung kemudian menjelaskan lewat sosok Ahmad Dahlan bahwa agama pada intinya memberikan orang untuk merasakan tenteram, indah, dan nyaman. Dan, semua itu tentunya harus berdasarkan pada ilmu.
Lalu, dari barisan pemeran, Hanung memboyong para pemain terbaik yang ada di negeri ini. Sebutlah nama Slamet Rahardjo, Ikranegara, Sujiwo Tedjo, Sitok Srengege yang tak perlu lagi disangsikan kemampuan seni perannya di depan kamera. Para pemain berkualitas itu pun disandingkan dengan sosok-sosok muda seperti Lukman Sardi, Ihsan Tarore, Giring Nidji, Joshua, dan Zaskia Mecca.
Dari semua pemeran tersebut rasanya patut diberikan penghargaan besar. Wabil khusus diberikan kepada Lukman Sardi. Putra Idris Sardi ini-seperti dalam film-film lainnya, selalu mampu menyelami setiap karakter yang dimainkannya. Dan, pada karakter Ahmad Dahlan dewasa, Lukman bermain dengan begitu paripurna.
Sedangkan satu-satunya akting yang terasa mengganggu adalah Zaskia Mecca. Zaskia di film ini berperan sebagai Nyai Dahlan. Di film ini begitu terlihat jelas betapa istri Hanung Bramantyo itu tak bisa mengartikulasikan dialek Jawa. Namun, pada saat jumpa pers, Hanung berkata soal penampilan Zaskia. "Daripada harus dipaksakan lebih baik seperti itu saja," kata Hanung.
Selain aspek akting maupun cerita, Hanung juga dibuat bekerja ekstrakeras untuk bisa menghadirkan kembali suasana akhir 1800-an di sekitar Yogyakarta. Bagaimana hasilnya? Seperti pada Ayat-Ayat Cinta. Ketika itu, Hanung mampu menduplikasi suasana Mesir dengan hanya mengambil setting lokasi di Tanah Air. Hanung tetap piawai. Secara artistik, film ini patut diberikan penghargaan.
Jadi, bagi Anda, terutama kaum muda yang memang menjadi pasar terbesar dalam industri perfilman Indonesia, tak ada salahnya menikmati film ini di layar bioskop. Jauh dari sekadar propaganda tentang organisasi Muhammadiyah, Sang Pencerah menjanjikan jiwa. Sebagaimana Hanung, yang menurut dia hanya berpretensi satu untuk film ini: mengajak generasi muda merefleksikan kembali diri mereka, apa yang sudah kita perbuat bagi negeri ini? ed darmawan sepriyossa
(-)
Index Koran
(Mohammad Akbar)













[...] Read More… [...]
Ping balik oleh 'Sang Pencerah' Sisi Lain Kiai Ahmad Dahlan « ARS Music - Kumpulan Cerpen | 8 September 2010 |
kayaknya film ini sangat bagus, saya baru nonton behind the scene tadi malam. sayang sekali saya tidak bisa nonton hari ini karena dalam perjalanan keluar kota.
salam
duuuuuuude, wassssssup
Mau warga muhammadiyah, NU, Persis, dan lain-lain, Ayo nonton film Sang Pencerah…Semoga dengan diluncurkannya film ini, mampu memberikan pencerahan yang positif dalam hidup kita
salam,
Bolehngeblog