ARS's Blog

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Menyusuri Kegelapan Perut Bumi

WISATA petualangan menyusuri lubang di perut bumi dan kegelapan abadi, memberi kenikmatan dan sensasi tersendiri. Menyusuri goa bukit kapur di Desa Napallicin, Kecamatan Ulurawas, sekitar 150 kilometer utara kota Lubuklinggau, Musirawas ini, memberi pengalaman tersendiri.

Liang yang termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci-Sebelat (TNKS), punggungan barat Bukit Barisan, relatif alami dan asli. Belum banyak disentuh dan diubah untuk kepentingan wisatawan.

Sebelum masuk goa, selain berusaha memperoleh informasi penduduk setempat, sebaiknya mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Warga memudahkan pengunjung yang berwisata, terutama untuk goa-goa vertikal. Alat penerangan memadai, tentu saja diharuskan agar bisa menikmati lekukan-lekukan di dalam perut bumi.

Gelap abadi, sinar matahari tak mampu menembus hingga jauh ke dalam. Lembab dan bau guano kotoran kelelawar begitu menyengat. Namun tidak jarang, burung walet menjadi penghuni setia dan bersarang di sana sepanjang tidak dijarah manusia.

Proses alam ratusan bahkan ribuan tahun, membentuk pemandangan eksotis yang patut diabadikan kamera. Stalaktit dan stalakmit yang sasah dan meneteskan air, menampilkan keindahan warna-warna alami dan menakjubkan.

Konglomerasi Kristal

Untuk menyusuri lebih dalam ke perut bumi, kadang-kadang diperlukan usaha ekstra. Lubang-lubang kecil di permukaan, sering menyimpan pemandangan yang luar biasa di dalamnya. Kalangan pencinta goa, tidak merekomendasi pengunjung menggunakan blitz, lampu kilat kamera, dikhawatirkan akan mengganggu penghuni tetap goa yang sangat sensitif apabila terkena sinar berlebihan.

Tak banyak hewan yang mampu beradaptasi terhadap kegelapan berkepanjangan di dalam goa, seperti jangkrik dan kelelawar. Semakin jauh masuk ke dalam goa, semakin jarang hewan yang ditemui.

Batu-batu yang terkikis air dalam waktu lama, atau konglomerasi kristal yang dibawa air, menghasilkan warna dan bentuk yang aneh. Bentukan yang menakjubkan ini pula sering membuat orang begitu haus memasuki goa hingga jauh ke dalam perut bumi. Termasuk menyusuri sungai-sungai di bawah tanah.

Goa Bukitbatu di Napallicin ini, relatif mudah untuk di telusuri. Lokasi ini cocok untuk latihan penelusuran bagi pemula, karena terdapat liang-liang vertikal hingga ke permukaan bukit ini. Konon dan sebagian warga percaya betul, goa ini dijadikan tempat penyimpanan emas peninggal pada masa pemerintahan Kolonial Belanda. Namun, cerita dari mulut ke mulut ini, sulit dibuktikan.

Untuk menuju kawasan permukiman paling hulu di Sungai Rawas, sungai ini bermuara di Sungai Musi, ditempuh dari Kota Lubuklinggai sekitar tiga jam. Waktu tempuh yang relatif lama ini, terobati begitu memasuki kawasan punggungan Bukit Barisan dan menyusuri Sungai Rawas, sungai berawal dari sebelah utara Gunung Seblat. (Sutrisman Dinah)

Sriwijaya Post -

12 April 2010 - Posted by | Tak Berkategori |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.