ARS's Info.

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

Cara Menjaga Psiklogis Anak Bila Sering Ditinggal Orangtua

Pada umumnya, anak akan rewel jika baru pertama kali ditinggal  dalam jangka waktu lama. Jika sudah terbiasa, umumnya dalam diri si  kecil sudah terbentuk pola; bila orang tua pergi maka akan kembali lagi  sehingga anak sudah tidak kaget lagi. (foto: google)

Pada umumnya, anak akan rewel jika baru pertama kali ditinggal dalam jangka waktu lama. Jika sudah terbiasa, umumnya dalam diri si kecil sudah terbentuk pola; bila orang tua pergi maka akan kembali lagi sehingga anak sudah tidak kaget lagi. (foto: google)

Si kecil sakit Saat ditinggal pergi tak akan terjadi asalkan selama ditinggal si kecil memperoleh pengganti figur yang dapat memahami kondisinya.
“Aduh, Keisya sudah tiga hari rewel dan suhu badannya meninggi. Penyebabnya, ia pengen ketemu bapaknya. Padahal suamiku sedang tugas ke luar kota untuk beberapa hari!” keluh seorang ibu.
Nah, jika Ibu-Bapak pernah mengalami kasus serupa, tak perlu langsung panik. Wajar saja si kecil rewel, enggak mau makan sampai sakit-sakitan ketika ditinggal oleh figur yang ia sayangi. Penyebabnya, jelas Evi Sukmaningrum, tak lain karena pada masa batita, anak sudah mulai menyadari orang-orang yang dekat dengannya atau orang-orang yang sehari-hari ada bersamanya.
Selain itu, batita pun masih mengembangkan ketergantungan yang tinggi pada orang yang biasa merawat atau yang dekat dengannya. Itu berarti bisa orang tua, babysitter atau bahkan kakek dan nenek. “Misal dalam hal ini dengan si bapak. Ketergantungan antar bapak dan anak sudah bersifat interdependensi. Artinya, bapak dan anak masing-masing merasakan kenyamanan dan keamanan ketika berada bersama-sama. Jadi ketika berpisah, bukan anak saja yang merasa tidak nyaman, bapaknya pun ketika pergi merasa kangen,” ujar psikolog dari Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.

Pada umumnya, lanjut Evi, anak akan rewel jika baru pertama kali ditinggal dalam jangka waktu lama. Jika sudah terbiasa, umumnya dalam diri si kecil sudah terbentuk pola; bila orang tua pergi maka akan kembali lagi sehingga anak sudah tidak kaget lagi. “Jika orang tuanya sudah sering pergi lama, namun anak tetap rewel berarti ada yang salah.” Misalnya, lanjut Evi, karena ketika pulang, orang tua tidak segera kontak dengan anak atau langsung pergi lagi. “Ini membuat anak merasa jauh sehingga tidak tumbuh kepercayaan kalau orang tuanya pergi akan kembali ‘Kok, aku ditinggal-tinggal terus, sih?’
Lain ketika orang tua sering pergi namun ketika kembali langsung memberikan kontak yang kualitasnya luar biasa pada hari-hari sesudahnya.” Jadi, tegas Evi, anak merasa tetap disayang. “Kalaupun orang tuanya pergi lagi walaupun lama, ia tetap akan percaya bahwa mereka akan kembali lagi. Ini yang paling penting.”
AKAN REWEL
Lalu bagaimana cara menyiasati bila kita harus meninggalkan si kecil untuk pertama kalinya? Menurut Evi, jika kejadian ini baru pertama kali, maka persiapannya memang agak sulit, mau tak mau kita tetap akan mendapatkan kondisi di mana anak tetap akan rewel.
Akan percuma bila kita menjelaskan dengan bahasa, “Dek, Bunda pergi dulu 3 hari, ya!” karena batita belum mengetahui konsep waktu. Yang ia tahu hanya pengertian hari ini saja, belum paham esok, apalagi perkataan “3 hari lagi”. Hal itu karena pola pikirnya masih belum konkret, “3 hari itu berapa lama, ya?” Sama juga ketika kita mengatakan, “Bunda mau pergi dulu, ya, tapi pulangnya lama. Jadi jangan cari-cari Bunda!” Perkataan seperti ini juga tidak akan dipahami si kecil karena konsep pergi di situ baginya dapat diartikan hanya sebagai pergi ke kantor dan akan pulang kembali hari itu juga.
“Anak batita sudah memiliki biological clock. Jadi ketika jam 19. 00 si Ibu belum nongol-nongol, padahal biasanya sudah pulang, ia akan merasa kehilangan dan pasti akan bertanya, ‘Mama mana?’ Kalau dijawab, ‘Kan, Ayah sudah bilang tadi kalau Mama perginya lama!’ si kecil tetap tidak akan mengerti. Malah ketika si Ibu tidak muncul pada waktu yang diharapkan, rasa amannya pun mulai terusik. Tak heran kalau kemudian ia pun gelisah dan rewel.”
Nah, yang bisa kita lakukan, Bu-Pak, pastikan segala kebutuhan fisik anak terpenuhi saat ditinggal pergi salah satu orang tua atau kedua-duanya. Semisal, susu, makanan kesukaan, sampai mainan kesayangan. Lalu carilah subtitute/pengganti. Subtitute ini bisa sang ayah bila ibu yang pergi. Begitu juga sebaliknya, bisa ibu bila ayahnya yang pergi. Bisa juga babysitter atau nenek dan kakek. “Jadi untuk sementara anak mendapatkan rasa aman dari si pengganti.”
Tapi kalau awalnya anak tetap rewel, si pengganti harus maklum karena perasaan aman tidak muncul seketika. “Sedangkan trust anak dengan si figur sudah terbentuk sejak bayi.” Tugas subtitute di sini adalah berusaha menenangkan anak ketika ia mulai mencari-cari si figur. Katakan “Mama pasti pulang!” Kita bisa juga menambahkan dengan cerita yang mengetengahkan anak yang berani ditinggal orang tuanya. Semisal, “Dek, si Dino ini kayak Adek, lo. Ditinggal Mama dan Papa tapi enggak nangis. Mama dan Papa Dino seperti Mama dan Papa Adek, pergi mencari uang buat beli susu.” Dari situ si kecil memahami bahwa orang tuanya pergi bukan untuk kepentingan mereka saja, tapi juga untuk kepentingannya. Artinya, si kecil juga sudah harus diajak berpikir untuk tidak melihat dari dirinya sendiri, walau ini masih sulit untuk batita, namun tak ada salahnya diperkenalkan.
DUNIA BERMAIN
Jangan dilupakan juga bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Dengan bermain si kecil dapat melepaskan semua hal yang menyakitkan/melukai dirinya. Jadi suguhkan si kecil berbagai aktivitas bermain sehingga membuat anak tidak terfokus pada ketidakhadiran orang tua mereka. “Kalau si kecil dibiarkan tanpa aktivitas, sementara si pengganti juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka anak akan terfokus pada rasa kehilangannya, ‘Mama kok, enggak ada, sih!’ Maka ia pun akan semakin merasa tidak aman.”
Si pengganti pun harus siap si kecil akan melakukan perilaku agresif karena marah tidak dapat bertemu orang tuanya. “Tanyalah dengan memeluk si kecil, ‘Kenapa Adek memukul Nenek?’ atau ‘Adek marah karena ditinggal Ayah, ya?'” Lalu carilah aktivitas pengganti untuk menyalurkan kemarahannya. “Yuk, Dek, kita cabuti rumput-rumput di taman saja!” Atau “Gimana kalau kita kasih makan ayam di halaman?” Aktivitas ini membuat reaksi marah anak bisa tersalurkan dalam bentuk yang lebih positif. Tentu saja semua ini membutuhkan kreativitas dari si pengganti, juga pengertiannya karena anak dalam keadaan tidak aman dan nyaman.
Jika si kecil jadi sulit makan, menurut Evi, sesekali si pengganti bisa melanggar prinsip gizi. Ketika ditanya, “Adek mau makan apa hari ini?” Kalau dijawab “Hamburger!”, ya, untuk kali ini bolehlah memberinya makanan tersebut kendati sebelumnya ia tidak boleh menyentuh junk food. “Kita, kan, juga perlu memahami bahwa anak sedang dalam keadaan tidak nyaman.” Toh, saat sedang tidak mood, orang dewasa pun enggak mau makan apa-apa. Agar anak tetap memperoleh energi, ia bisa makan apa yang ia sukai. “Enggak mungkin anak dipaksa makan sesuatu yang rutin, padahal waktu itu dalam keadaan tidak mood. Jadi, walaupun tidak bergizi tapi yang penting si kecil kemasukan energi dulu.” Setelah itu baru si kecil bisa dibujuk, makan makanan yang bergizi sambil berjalan-jalan. “Sekarang Adek harus makan sayur bayamnya, supaya sehat. Kalau Mama pulang, tapi Adek sakit, jadi enggak bisa jalan-jalan, dong!”
Hal penting lain, Ibu-Bapak yang meninggalkan si kecil, sebisa mungkin selalu melakukan kontak telepon untuk mengetahui kondisi rumah dan juga memantau keadaan si kecil. Kalau si kecil sudah bisa diajak berkomunikasi akan lebih baik lagi karena dengan mendengar suara orang yang disayangi setidaknya akan menghibur. “Kontak ini dimaksudkan walaupun si kecil jauh dari orang yang disayanginya, namun tetap ada suara yang bisa ia dengarkan,” ujar Evi.
KETIKA SUDAH PULANG
Saat Bapak atau Ibu kembali ke rumah, tak berarti masalah selesai. Karena ekspresi si kecil dalam mengungkapkan perasaan tidak aman/nyaman bisa beraneka cara. Ingat, lo, rasa kehilangan dapat menimbulkan rasa kangen juga rasa marah/jengkel. Perasaan yang sudah berkecamuk dalam diri anak selama beberapa waktu, akan segera dilampiaskan ketika si figur datang. “Yang ingin dilakukan anak adalah mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam perasaannya. Dalam mengungkapkan perasaan ini, kadangkala anak menjadi agresif dengan memukuli si ibu atau bapak untuk mengungkapkan, ‘Aku marah, kenapa Mama atau Ayah meninggalkan aku lama-lama!’ Namun kemarahan ini biasanya hanya bersifat temporer,” kata Evi.
Ekspresi lain yang mungkin muncul adalah tak mau berpisah dengan si figur tadi. Ini juga wajar saja karena selama si figur pergi, si kecil merasa kehilangan rasa aman. Jadi ketika si figur kembali, si kecil akan mengkompensasi rasa ketidaknyamanannya selama si figur pergi dengan memeluk, menangis, dan tidak merelakan si figur pergi.
Cara menyiasati hal seperti ini, untuk sementara anak jangan ditinggal pergi dulu. “Pernyataan tidak hanya secara verbal tapi juga nonverbal, yang menyatakan bahwa ‘Adek tidak akan ditinggal lagi, Ibu atau Ayah akan ada di samping Adek.’ Jadi untuk sementara turuti kemauan si kecil. Jika ia ingin dipeluk, peluklah dia. Jika ingin digendong, gendonglah ia. Karena semua itu merupakan ungkapan rasa kangen dan kemarahannya ketika ditinggal. Pelukan dapat meredakan/membantu mengeluarkan kemarahan anak, dibanding jika si ibu/ayah menolak dengan alasan lelah, misal, maka anak akan lebih terluka”.
Kemungkinan lain yang bisa terjadi adalah si kecil terlihat lebih akrab dengan si subtitute ketimbang sebelumnya. Nah, kalau sudah begini, tak perlu langsung khawatir, si kecil akan melupakan kita begitu saja. Coba pikirkan bagaimana cara mengambil hatinya kembali. Semisal, dengan memberikan pertemuan yang berkualitas. Ketika pulang, kita bisa mengambil alih tugas si pengganti, misal menyuapi anak. Ungkapkan juga pada anak secara jujur perasaan kita, “Bunda kangen banget sama Adek. Jadi kali ini yang nyuapin Bunda aja, ya, Mbak biar istirahat dulu!” misal.
Jadi, Bu-Pak, kalau hanya terjadi sekali dua kali si kecil jadi rewel, itu kondisi yang lazim karena ia merasa tidak nyaman ketika orang tuanya tidak ada. Tapi kalau kerewelan itu terus-menerus terjadi setiap orang tua pergi, kemungkinan si kecil kehilangan trust. Jangan-jangan kita sering meninggalkan si kecil namun ketika kembali tidak membayar kembali rasa aman yang hilang pada diri si kecil?
Segala sesuatunya berpulang kembali pada diri kita masing-masing. Karena ternyata kitalah yang sudah menjadikannya demikian, kan?
Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan ibu:

  1. Ketika ibu bekerja, siapakah pengganti dari ibu, karena peran pengganti figur ibu juga menentukan keoptimalan dari perkembangan anak. Untuk ibu perlu bekerja sama dengan pengasuh agar dapat  terus memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu harus aktif mencari tahu segala informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak.
  2. Ibu harus meluangkan waktu untuk memenuhi waktu yang hilang bersama dengan anak. Dengan demikian kedekatan emosional masih terus terjaga dan ibu bisa terus memberikan stimulus pada anak supaya pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berkembang secara optimal.
  3. Anak yang tumbuh dengan sehat maka kemampuannya juga akan berkembang dengan baik, dengan kata lain anak yang sehat secara fisik maka kecerdasannya juga akan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
  4. Kecuali jika ada kasus-kasus khusus pada anak, misalnya autis, hiperaktif, dll maka hal ini diperlukan penanganan khusus.

Untuk Anda yang baik hati, Anda dapat membantu tetangga Anda dengan memberikan dukungan untuk selalu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak. Banyak sekali informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak dan bagaimana kita merangsang pertumbuhan dan perkembangan agar anak dapat berkembang secara optimal. Untuk anaknya,  jika di lingkungan anda ada PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), maka akan lebih baik jika si anak diajak untuk ikut, karena disana ia akan belajar bersosialisasi dan mengembangkan keterampilannya sehingga dapat meningkatkan kecerdasan anak. (fn/cbn/ia) www.suaramedia.com

About these ads

8 April 2010 - Posted by | Tak Berkategori |

3 Komentar »

  1. tetapi bukan sebaiknya, orang tua slalu ada untuk anakny? paling tidak anak slalu dekat dengan salah satu orang tuanya ayah atau ibu bukan?

    Komentar oleh maya chan | 8 April 2010 | Balas

  2. kalau emang manja gimana? sudah kerasa saya di tinggal orangtua pergaulannya jadi ga bener. kalau bareng sama orangtua itu lebih nyaman :'( enak di ajak curhat lagi.

    Komentar oleh Asty Nurfadillah | 1 Agustus 2012 | Balas

  3. tetap susah memberikan pengertian pada anak,pdahal semua usaha dan doa sudah kulakukan………sepertinya anak semakin trauma jika dtinggal ortunya,,,sosok pengganti itulah yg paling penting dan yg susah didapat…

    Komentar oleh titi | 12 Desember 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: