ARS's Blog

(Information: Tourism, Family, Lifestyle, Entertainment, Healt, etc.)

ROTI BUAYA

Buaya luh……mungkin kata-kata itu seharusnya tidak menyinggung perasaan orang Betawi bila dilontarkan. Hal ini mengingat filosofis orang Betawi yang sangat mengagungkan buaya putih sebagai simbol percintaan dan perkawinan.
Roti buaya sepasang adalah suatu persembahan atau bentuk ‘seserahan’ mempelai pria kepada wanitanya. Roti ini untuk selanjutnya tidak dimakan melainkan hanya dipajang saja di atas meja dan kadang-kadang sering pula ditempelkan di dinding dekat pelaminan.

Penggunaan roti buaya tersebut adalah konsep dunia mitos Betawi yang sangat mengagungkan buaya putih sebagai pertanda baik untuk perkawinan. Buaya putih adalah hewan mistis penunggu sungai yang dianggap keramat bagi mereka. Sepasang roti buaya itu mensimbolkan suatu kekuatan spiritual yang akan melindungi pasangan yang menikah untuk saat ‘keriaan’ tersebut berlangsung.
Selain itu juga dari nilai kelakuan dan karakter yang terkandung didalamnya, yakni diharapkan kedua mempelai dapat berkelakuan seperti sepasangan buaya seperti layaknya. Buaya biasanya monogami dan memiliki sarang yang tetap dan tidak berpindah-pindah.
Oleh karena filosofis sikap kesetiaan pasangan hidup buaya tersebut juga digunakan oleh masyarakat Betawi sebagai cermin bagaimana seharusnya pasangan mempelai bertindak dan berperilaku. Selalu setia, memiliki rumah yang tetap dan mengharamkan perselingkuhan adalah nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai norma dan etika hidup bersosial inilah yang sangat agung dan perlu ditumbuhsuburkan pada masyarakat Betawi modern saat ini.
Hal ini untuk mengantisipasi terkondisinya masyarakat Betawi akan segala macam penyakit hati dan penyimpangan pola pergaulan masyarakat urban yang menyerang kehidupannya sebagai masyarakat kosmopolit penduduk asli ibukota negara Indonesia, yaitu;Jakarta.
Bila merunut sejarahnya, simbol buaya (putih) masuk dalam dunia mitos Betawi merupakan pengaruh kuat dari kebudayaan orang Dayak dan Melayu Kalimantan Barat yang menurut Prof. Nothofer yang telah hijrah ke Jakarta paling sedikit sejak abad 10 M. Mereka inilah yang kemudian menjadi komponen utama yang menurunkan dan menciptakan komunitas baru yakni orang betawi (Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi, Gunarakata, 1997).
Cerita mitosnya; Arkian, Mahatara adalah Dewa utama orang Dayak. Mahatara punya 7 puteri yang disebut dewi-dewi Santang (mengingatkan nama Kyan Santang, yaitu putera Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan selir Nhay Subang Larang yang beragama Islam).
Mahatara mempunyai putera yang bernama Jata. Si Jata ini wajahnya merah dan kepalanya berbentuk kepala buaya.
Karena itu orang Dayak menganggap buaya adalah hewan suci karena dianggap penjelmaan dari Jata tersebut. Orang Dayak tidak membunuh buaya kecuali warganya ada yang ditelan buaya (Jan Knappert, Myth and legends of Indonesia, Singapura, 1977).
Lambat laun terjadi pergeseran konsep terhadap simbol buaya tersebut dalam dunia mitos Betawi adalah orang Betawi tidak mensucikan buaya sebagai hewan ma’ujud, tetapi yang dihormati adalah buaya siluman yang warnanya putih. (Sumber: milis tetangga)

11 Februari 2010 - Posted by | Nostalgia Jakarta |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.